Sulawesitoday - Hujan deras mengguyur Samarinda, dan tanah di Belimau, Lempake, kehilangan pijakan. Empat rumah ambruk ditelan longsor, Senin dini hari (12/5). Empat nyawa ikut terkubur, dua berhasil ditemukan—tak bernyawa.
Tim SAR bekerja melawan waktu. Tapi tanah punya agenda sendiri. Labil, basah, dan—seperti biasa—tak bisa ditawar.
Mardi Sianturi, Koordinator SAR Samarinda, menyebut evakuasi bukan perkara cepat. “Tanah masih bergerak. Jadi kami buka dulu jalan dengan ekskavator kecil. Setelah agak padat, baru alat besar turun,” katanya.
Satu per satu, rumah yang tertimbun dibongkar. Di kamar belakang, jasad Hamdana (50) ditemukan lebih dulu. Lalu di bagian depan, Nasrul (24)—anaknya—ikut menyusul. Dua lagi, Nurul Sakira (17) dan Fitri (14), belum ditemukan.
Langit semakin gelap, dan longsor tak suka pencahayaan minim. Maka pencarian pun dihentikan. "Kami tak ingin ada korban lagi dari tim sendiri," ujar Mardi.
BPBD menyebut alat berat sementara ditarik ke lokasi aman. Tapi janji sudah terucap: evakuasi akan dilanjutkan esok pagi. “Medan berat, masih rawan. Kita tetap waspada,” kata Suwarso, Kepala BPBD Samarinda.
Sebagian evakuasi dilakukan manual—cangkul, sekop, dan keteguhan hati. Seperti biasa, perlengkapan boleh terbatas, tapi nyali tim SAR tak pernah setengah.
Korban yang ditemukan dibawa ke RSUD AW Sjahranie. Prosedur identifikasi menanti, meski publik sudah tahu: mereka satu keluarga.
Baca Juga: Polisi Sisir Data Korban Kapal Wisata Tiga Putra Tenggelam di Bengkulu
Samarinda bukan baru sekali dilanda longsor. Tapi entah mengapa, setiap kali tanah runtuh, kita selalu tampak seperti baru bangun tidur. Pertanyaan lama kembali menggema: seberapa siap kita untuk bencana yang sudah bisa ditebak?
Sementara itu, tanah di Belimau masih diam—menyimpan dua nama yang belum pulang.