Sulawesitoday - Ada mendung pekat menggelayuti langit industri nikel Sulawesi. Kabar ini seperti badai yang tiba-tiba datang, membawa serta ketidakpastian bagi ribuan keluarga. Mereka adalah para pekerja smelter nikel, yang kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit: dirumahkan, bahkan kehilangan pekerjaan. Saya merasakan betul, betapa beratnya situasi ini.
Dulu, industri nikel digadang-gadang jadi lokomotif ekonomi. Janjinya manis. Namun, kini asa itu seperti benang sengkarut. Terlalu rumit untuk diurai. Djoko Widajatno, Dewan Penasihat Pertambangan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Ia membeberkan, PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI) di Kawasan Industri Bantaeng, Sulawesi Selatan, adalah salah satu yang paling mencolok. Sejak 15 Juli 2025, operasional mereka berhenti total.
Angka-angka itu berbicara sendiri. Serikat Buruh Industri Pertambangan dan Energi (SBIPE) melaporkan, ada 1.200 karyawan yang terdampak. Itu baru dari HNAI dan tiga anak perusahannya: PT H Wuzhou, PT H Yatai, dan PT H Yatai II.
Sebagian dari mereka, sekitar 350 orang, sudah dirumahkan sejak awal Juli 2025 tanpa surat resmi. Sisanya? Menerima memo pemberitahuan pada pertengahan bulan. Proses "break" ini, sebutan untuk perumahan karyawan tanpa batas, bahkan sudah dimulai sejak akhir 2024. Sungguh pelik.
Pemerintah daerah, lewat Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bantaeng, telah mengkonfirmasi penghentian operasi HNAI. Nasib karyawan? Disuruh menunggu. Kapan berakhirnya? Tak ada yang tahu. Sebuah kondisi yang menggantung tanpa ujung.
Ironisnya, manajemen HNAI menepis semua ini. Mereka menyebut kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) massal itu hoaks. Bahkan, siap menempuh jalur hukum bagi penyebar informasi sesat. Sebuah bantahan yang kontras dengan realitas di lapangan.
Hingga semester satu 2025, tercatat empat perusahaan smelter nikel di Sulawesi hentikan operasional. Mereka terpaksa melakukannya karena berbagai alasan pelik. Pertama, PT GNI (Gunbuster Nickel Industry), menyerah pada harga nikel yang rendah, konflik sosial yang tak kunjung usai, dan biaya listrik yang mencekik.
Lalu, PT HNAI (Huadi Nickel Alloy Indonesia), yang tergerus oleh anjloknya harga nikel dan permintaan yang stagnan. Kemudian, PT ITSS (Indonesia Tsingshan Stainless Steel), yang oleng akibat oversupply dan tekanan pasar baja dunia.
Terakhir, PT VDNI (Virtue Dragon Nickel Industry), yang mengambil langkah efisiensi kapasitas dan transisi ke teknologi HPAL, menyebabkan keuntungan mereka menurun dan memangkas lini produksi. Ini bagaikan pil pahit yang harus ditelan ribuan keluarga di Sulawesi.
Baca Juga: Asa Baru Mahasiswa Sulteng, Program BERANI Cerdas Salurkan Beasiswa ke 1503 Orang