Sulawesitoday - Kepercayaan orang tua terhadap layanan transportasi daring kembali diuji. Seorang siswi kelas 5 Sekolah Dasar di Antapani, Kota Bandung, menjadi korban dugaan pelecehan dan percobaan penyekapan oleh oknum pengemudi ojek online (ojol) pada Selasa, 21 April 2026. Alih-alih mengantar ke rumah, sang driver justru membawa bocah malang itu ke kamar kosnya.
Pelaku, yang diketahui bernama Joko, kini telah diringkus aparat Kepolisian Sektor (Polsek) Antapani.
Peristiwa ini bermula saat orang tua korban tidak sempat menjemput ke sekolah. Karena sudah terbiasa menggunakan jasa aplikasi Grab, sang ibu memesankan ojek untuk putrinya. Sialnya, orderan tersebut jatuh ke tangan Joko—driver yang ternyata sudah beberapa kali mengantar korban dan diam-diam menyimpan niat busuk.
"Sudah sering dapat ojol yang itu, bukan sekali dua kali," ungkap kakak korban melalui akun media sosialnya, Rabu.
Di atas motor, Joko mulai berulah. Dengan dalih posisi duduk korban terlalu ke belakang, ia berulang kali memegang kaki bocah tersebut. Namun, puncaknya terjadi saat motor tak kunjung berbelok ke arah rumah korban di kawasan dekat flyover Antapani. Joko justru memacu kendaraannya menuju daerah Bunisari.
Logika Joko sulit diterima akal sehat. Ia merayu korban untuk mampir ke kamar kosnya. "Mampir dulu ke kosan bentar, nggak lama cuma sejam," kata Joko sebagaimana ditirukan kakak korban.
Dunia memang sudah gila. Seorang dewasa mengajak anak kecil ke kamar kos "hanya" untuk satu jam. Tentu kita tahu apa yang ada di kepala pria macam itu.
Untungnya, naluri bertahan sang bocah bekerja. Ia menangis histeris dan berteriak di tengah lingkungan kos yang sepi. Kepanikan rupanya menyergap Joko. Takut aksinya memancing perhatian warga, ia mengurungkan niat membawa masuk korban ke dalam kamar dan memilih mengantarkannya pulang.
Sesampainya di rumah, tangis korban pecah. Ia mengadu pada ibunya. "Si ojolnya mesum, pegang-pegang aku," tuturnya polos. Ternyata, tindakan tidak sopan itu sudah dialami korban beberapa kali setiap kali mendapat driver yang sama, namun ia terlalu takut untuk bersuara.
Pihak Grab Indonesia bertindak cepat menyikapi kasus ini. Investigasi internal langsung dijalankan begitu laporan masuk.
"Sebagai langkah awal, kami telah menonaktifkan mitra pengemudi terkait," tegas perwakilan Grab dalam keterangan resminya. Pihak aplikator juga berjanji akan mendampingi keluarga korban untuk memastikan kebutuhan pemulihan trauma terpenuhi.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi para orang tua. Keamanan anak di ruang publik, bahkan dalam layanan yang dianggap praktis sekalipun, tetap menyimpan celah bahaya. Saat ini, korban sedang menjalani proses visum dan pendampingan psikologis karena mengalami trauma mendalam.
Joko memang tidak melawan saat diciduk polisi di kediamannya, Selasa malam. Namun, jejak trauma yang ditinggalkannya pada siswi SD itu mungkin butuh waktu lama untuk pulih. Polisi kini tengah mendalami apakah ada korban lain dari tindakan predator berkedok mitra pengemudi ini.
Satu pelajaran penting: jangan pernah membiarkan anak-anak sendirian, meski dengan orang yang merasa sudah kita kenal sekalipun. Dunia luar terkadang lebih gelap dari yang terlihat di layar ponsel.