• Senin, 22 Juni 2026

Pertamax Belum Naik, Tapi Bahlil Sudah Kasih Sinyal

.
Aswadin, Sulawesi Today
- Selasa, 21 April 2026 | 16:03 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia beri sinyal Pertamax bisa naik menyusul Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex yang sudah naik sejak 18 April 2026.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia beri sinyal Pertamax bisa naik menyusul Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex yang sudah naik sejak 18 April 2026.

Sulawesitoday - Tiga BBM nonsubsidi baru saja loncat harga. Pertamax Turbo naik Rp6.000 per liter dalam sekali gerak. Dexlite dan Pertamina Dex masing-masing melejit Rp9.400 per liter. Tapi Pertamax — si paling ramai pengguna — masih anteng di Rp12.300. Belum naik.

Sampai kapan? Pertanyaan itulah yang paling banyak berseliweran di kalangan konsumen sejak kenaikan per 18 April 2026 lalu. Dan Selasa kemarin, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akhirnya buka mulut.

Bukan dengan menjamin harga aman. Sebaliknya, Bahlil justru menyebut kemungkinan penyesuaian harga ke depan. Dengan nada datar tapi tegas, ia bilang: "Kalau harganya turun, ya nggak naik, tapi kalau harganya begini terus, ya mungkin pasti ada penyesuaian."

Pernyataan itu meluncur usai konferensi pers di Kementerian ESDM, Senin (20/4/2026), saat seorang wartawan mendesaknya dengan pertanyaan sederhana: apakah Pertamax bakal ikut naik?

Bahlil tidak menghindar. Ia mengakui bahwa harga BBM nonsubsidi memang terikat mekanisme pasar minyak dunia, sesuai Keputusan Menteri ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022. Pemerintah hanya bisa menjamin harga BBM bersubsidi. Selebihnya, mau tidak mau ikut arus global.

"Tahap pertama mungkin sekarang dilakukan seperti sekarang ini, tahap berikutnya kita lihat penyesuaian," ujarnya.

Artinya, kenaikan 18 April bukan akhir cerita. Itu baru babak pertama.

Jangan Mau Dapat Subsidi Kalau Tidak Berhak

Di sela-sela pernyataannya soal harga, Bahlil juga sempat menegur — keras tapi sopan — kelompok pengguna BBM nonsubsidi yang berencana berpindah ke jalur subsidi setelah kenaikan harga. Baginya, itu bukan cuma masalah ekonomi. Itu soal harga diri.

"Karena harga BBM RON 98 naik, kemudian masuk ke subsidi. Itu namanya mengambil hak saudara-saudara kita yang berhak menerimanya. Apa nggak malu?" tegasnya.

Ia lantas menyinggung sistem pengawasan yang tengah digodok, terinspirasi dari Korea Selatan. Di Seoul, katanya, distribusi BBM bisa dibatasi per kendaraan hingga 50 liter per hari — cukup untuk menempuh 300 hingga 400 kilometer. Pembatasan itu dikecualikan untuk bus, truk logistik pengangkut bahan pokok, tapi tidak untuk truk perkebunan sawit atau kendaraan tambang.

"Pengawasan itu ada, tapi perlu juga penting keinsyafan dari diri kita. Malu nggak kalau kita diawasin terus?" kata Bahlil.

Sebuah pertanyaan yang terdengar retoris, tapi jelas ditujukan kepada siapa.

Lonjakkan Harga yang Tidak Bisa Diabaikan

Halaman:

Editor: Aswadin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini