Sulawesitoday - Urusan kekerasan pada perempuan dan anak itu pelik. Begitu juga soal perdagangan orang (TPPO) dan pernikahan dini. Masalahnya beranak-pinak. Tidak bisa lagi hanya diserahkan ke pundak satu dinas. Harus dikeroyok. Ramai-ramai. Bersama-sama.
Semangat itulah yang menyeruak dalam pertemuan koordinasi lintas sektor yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Majene, Selasa 21 April 2026. Ruangan rapat penuh. Ada Bupati, Wakil Bupati, sampai Sekda. Bahkan pihak imigrasi dan Polres Majene juga merapat.
Ini bukan sekadar kumpul-kumpul menghabiskan anggaran. Ada kegelisahan yang sama.
Kabupaten Majene ingin punya benteng yang lebih kokoh. Terutama soal anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) dan praktik perkawinan anak yang ternyata masih "bersembunyi" di sudut-sudut kampung. Pemerintah daerah sadar: ego sektoral adalah musuh terbesar dalam melindungi hak rakyat.
Kepala DP3A Majene, Hj. Lies Hirawati Thahir, nampak begitu lugas. Beliau tahu benar posisi dinasnya tidak akan berdaya tanpa sokongan polisi, tokoh masyarakat, hingga pendidik.
“Kami ingin memperkuat kolaborasi semua elemen agar upaya pencegahan kekerasan ini berjalan efektif,” ujar Lies di depan forum.
Beliau juga menekankan pentingnya satu frekuensi. "Diperlukan komitment bersama agar perlindungan hak-hak perempuan dan anak benar-benar terwujud," tambahnya dengan nada serius.
Selama ini, penanganan kasus seringkali terhambat karena birokrasi yang kaku. Lewat forum ini, alur koordinasi dipangkas. Siapa melakukan apa menjadi jelas. Urusan TPPO, misalnya, pihak migrasi dan polres sudah punya persepsi yang sama dengan pemerintah daerah. Tidak ada lagi saling lempar tanggung jawab.
Yang menarik adalah fokus pada pencegahan. Majene ingin mematikan api sebelum membesar. Caranya? Edukasi. Masyarakat harus tahu bahwa membiarkan kekerasan terjadi adalah dosa sosial. Peran keluarga diperkuat lagi.
Memang tidak mudah merubah kultur atau menekan angka kekerasan dalam semalam. Tapi, melihat kekompakan para pejabat di Majene kemarin, ada harapan besar. Generasi mendatang di Mandar harus tumbuh tanpa rasa takut.
Sinergi adalah kunci. Dan Majene baru saja memutar kunci itu kearah yang benar. Semoga saja bukan sekadar seremoni, tapi aksi nyata di lapangan yang konsisten. Rakyat menunggu buktinya.
Bawa HP dan Headset Tersembunyi, Dua Peserta UTBK di Unsulbar Langsung Didiskualifikasi
Artikel Terkait
Pansus LKPJ Sidak RSUD Anuntaloko, Temukan Fasilitas Baru Sudah Rusak
Banjir dan Api Mengepung Parigi Moutong, Legislator: Jangan Tunggu Bencana Besar
Tagih Bansos Jadup, Warga Langkat Robohkan Gerbang Kantor Bupati: Syah Afandin Janji ke Mensos
Viral WNA Timor Leste Sobek Rupiah di TikTok, Terancam 5 Tahun Penjara Meski Minta Maaf
Bawa HP dan Headset Tersembunyi, Dua Peserta UTBK di Unsulbar Langsung Didiskualifikasi