Sulawesitoday - Rumah jabatan Bupati Majene mendadak ramai. Tiga dokter dan belasan tenaga kesehatan Puskesmas Sendana I datang membawa mosi tidak percaya.
Mereka jengkel karena manajemen keuangan internal dinilai amburadul. Hak pegawai berupa dana kapitasi dan nonkapitasi berulang kali telat cair.
Lembaran kertas putih berisi tanda tangan penolakan dibentangkan di depan bupati. Isinya tegas meminta kepala puskesmas segera diganti.
Baca Juga: Berebut 19 Kursi Kepala Dinas Parigi Moutong, Bupati Erwin Burase Garansi Bebas Setoran
Duit operasional itu kabarnya masih mengendap di Bank Sulselbar Cabang Majene. Pihak puskesmas diduga sengaja mengulur waktu penarikan dana.
Sejumlah perawat sempat mendatangi bank untuk mencari kejelasan. Ternyata bank tidak punya aturan yang menghambat pencairan uang.
"Pihak bank bilang keterlambatan terjadi karena puskesmas lambat menarik dana," ujar seorang perawat dengan nada bingung.
Aksi melapor ke bupati menjadi jalan terakhir. Publik melihat motivasi kerja para abdi kesehatan di sana sudah mencapai titik nadir.
Masalah pemotongan atau keterlambatan hak ini bukan cerita baru. Kejadian serupa terus berulang hingga memicu keresahan yang mendalam.
"Semangat kerja teman-teman turun drastis karena hak kami selalu terlambat," kata sumber internal di lingkaran puskesmas.
Imbasnya kini mulai menjalar ke masyarakat luas. Pelayanan kesehatan di Kecamatan Sendana perlahan mulai terganggu.
Stok obat di gudang puskesmas bahkan sempat kosong langka. Operasional harian tidak bisa berjalan tanpa adanya dana segar.
Para medis mendesak Pemerintah Kabupaten Majene segera mengambil tindakan konkret. Stabilitas layanan publik taruhannya.