Sulawesitoday - Marah adalah monster emosional yang sering kali muncul tanpa aba-aba. Saat rasa amarah meluap-luap, terkadang ada fenomena tak terduga yang menyertai: air mata.
Masyarakat sering kali bingung menghadapi adegan menangis saat marah, tetapi Sabrina Romanoff, seorang psikolog klinis dan profesor di Yeshiva University, New York City, membuka tabir misteri ini.
Menurut Romanoff, air mata yang mengalir saat marah adalah respons umum terhadap rasa sedih atau terluka. "Begitu Anda membiarkan kemarahan keluar, Anda membuka pintu untuk merasakan rasa sakit dan emosi mendasar lainnya yang menyertainya. Inilah sebabnya Anda mungkin menangis ketika amarah memuncak," jelasnya, memberikan pandangan unik tentang keterkaitan antara kemarahan dan tangisan.
Kemarahan, reaksi terhadap luka atau kesedihan
Kemarahan, sejatinya, adalah reaksi terhadap luka atau kesedihan. Romanoff menekankan bahwa setelah kemarahan tersingkap, kita dapat dengan lebih mudah menjelajahi perasaan sakit dan emosi lain yang terkait.
Dalam pandangan ini, menangis bukanlah tanda kelemahan, melainkan penanda bahwa situasi itu memiliki arti yang mendalam dan individu tersebut memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadapnya.
Very Well Mind turut menjelaskan bahwa menangis saat marah dapat menjadi alat untuk mengalirkan emosi ke wilayah yang memerlukan refleksi lebih dalam. Selain itu, menangis dianggap sebagai bentuk self-soothing. Proses menangis secara alami membuat kita mengatur napas, menurunkan detak jantung, dan kembali ke keadaan tenang.
Keuntungan dan Risiko Air Mata Marah
Tapi seperti koin yang memiliki dua sisi, menangis saat marah juga dapat membawa risiko. Terutama dalam situasi di mana seseorang berusaha menyembunyikan perasaannya, menangis bisa menjadi bumerang.
Keyakinan bahwa menangis dapat merubah persepsi orang lain terhadap kita—dipandang negatif, manipulatif, atau tidak mampu mengatasi situasi—dapat menjadi hambatan.
Very Well Mind memperingatkan bahwa dalam beberapa kasus, menangis mungkin tidak diinginkan. Namun, hal ini tidak berarti kita harus mengekang emosi. Bagi mereka yang ingin mengatasi kecenderungan menangis saat marah, berbagai strategi dapat diaplikasikan.
Strategi untuk Meredakan Kemarahan dan Menahan Tangis
Pertama-tama, teknik pernapasan dalam, relaksasi otot progresif, menulis jurnal, berolahraga, dan praktik mindfulness dapat membantu meredakan kemarahan.
Aktivitas-aktivitas ini diketahui merangsang respons relaksasi yang bisa mengurangi stres dan menghentikan tangisan.
Tidak hanya itu, minum air dingin, menghabiskan waktu di luar ruangan, dan memberi waktu untuk diri sendiri juga dapat membantu menenangkan diri dalam situasi-situasi tertentu.
Tetapi, dalam situasi di mana menangis sebaiknya ditahan, memberi tahu orang di sekitar agar mengganti topik pembicaraan dapat memberikan ruang untuk mengumpulkan diri.
Mendalami Air Mata Marah untuk Mengelola Emosi
Dengan pemahaman lebih dalam tentang fenomena menangis saat marah, kita dapat lebih bijak dalam mengelola emosi. Ilmu pengetahuan ini membuka pintu bagi kita untuk memberikan dukungan yang tepat kepada orang-orang di sekitar kita.
Menangis saat marah mungkin bukan tanda kelemahan, melainkan sebuah perjalanan emosional yang memungkinkan kita menyelami diri sendiri dan menghadapi dampak situasi dengan kepala dingin.