berita

Media Kurang Fokus pada Isu Transisi Energi, Ketua AMSI Sulteng Ajak Media Massa Berkampanye Lebih Massif

Senin, 11 Desember 2023 | 20:17 WIB
Media Kurang Fokus pada Isu Transisi Energi, Ketua AMSI Sulteng Ajak Media Massa Berkampanye Lebih Massif Mohammad Iqbal, Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Tengah, menyoroti kurangnya perhatian media terhadap isu transisi energi di Indonesia. Dalam Festival Media ke-2 2023, Iqbal mengungkapkan bahwa meski media memiliki peran penting sebagai penyebar informasi, isu energi baru terbarukan masih belum menjadi fokus utama.

Media Kurang Fokus pada Isu Transisi Energi, Ketua AMSI Sulteng Ajak Media Massa Berkampanye Lebih Massif

Mohammad Iqbal, Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Tengah, menyoroti kurangnya perhatian media terhadap isu transisi energi di Indonesia. Dalam Festival Media ke-2 2023, Iqbal mengungkapkan bahwa meski media memiliki peran penting sebagai penyebar informasi, isu energi baru terbarukan masih belum menjadi fokus utama.

Dalam dialog tersebut, Iqbal menyampaikan bahwa media memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat dan memberikan pemahaman yang luas tentang transisi energi. "Media yang fokus pada isu transisi energi akan mampu memobilisasi dukungan masyarakat dan mempercepat upaya dekarbonisasi sistem energi di Indonesia," ujarnya.

Iqbal juga memaparkan data yang dikumpulkan oleh AMSI menunjukkan bahwa secara nasional, termasuk di Sulawesi Tengah, masih sedikit media yang secara khusus memfokuskan diri pada isu transisi energi. Media cenderung melihat isu ini hanya dari permukaan tanpa menggali lebih dalam dan melaporkannya secara konsisten kepada masyarakat.

Meskipun isu transisi energi dianggap kurang menarik oleh sebagian media, Iqbal menegaskan pentingnya mengawal isu ini. "Transisi energi bukan hanya isu nasional, namun juga telah dikampanyekan secara global. Oleh karena itu, media di Indonesia perlu fokus pada isu ini secara masif," tandasnya.

Kebutuhan Listrik Meningkat, Tantangan Pendanaan dan Harga Teknologi EBT

Pada 2021, konsumsi kebutuhan listrik Indonesia mencapai 255,1 Terra Watt Hour (TWH), dan diperkirakan akan mencapai 1.885 TWH pada tahun 2060, lebih dari enam kali lipat dari tahun sebelumnya. Pemerintah telah menetapkan target membangun pembangkit listrik hingga kapasitas 41 ribu Megawatt pada tahun 2030 dengan fokus pada Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

Meski langkah ini diambil untuk mengurangi emisi karbon, masih terdapat permasalahan terkait pendanaan dan harga teknologi EBT. Analisis PLN menunjukkan biaya solar panel mencapai US$4 sen/KWH, sedangkan harga baterai solid state untuk penyimpanan mencapai US$13 sen/KWH. Dengan demikian, harga perangkat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bersama teknologi baterai dapat mencapai US$17 - 18 sen/KWH, jauh lebih mahal dibandingkan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang hanya sekitar US$6 sen/KWH.

Permasalahan ini menyoroti tantangan yang dihadapi dalam pengembangan teknologi EBT, yang memerlukan solusi terkait pendanaan dan efisiensi biaya agar dapat menjadi pilihan yang lebih kompetitif dalam menyokong kebutuhan listrik nasional.

Terkini