Sebuah penemuan luar biasa dalam dunia astronomi telah mengungkapkan bahwa Bumi tidak hanya dikelilingi oleh satu Bulan, tetapi juga dua "bulan palsu" yang baru saja diidentifikasi oleh para astronom. Dua objek langit tersebut adalah asteroid Kamo'oalewa atau dikenal sebagai 2016 HO3 dan asteroid 2023 FW13.
Asteroid 2023 FW13, yang baru-baru ini diakui sebagai "quasi-bulan," ditemukan pada tanggal 28 Maret 2023 oleh ilmuwan menggunakan teleskop survei Pan-STARRS di Haleakala, Hawaii. Menariknya, asteroid ini memiliki lintasan orbit yang sangat rumit, "melintasi setengah perjalanan ke Mars dan setengah perjalanan ke Venus."
Dengan lebar sekitar 20 meter, asteroid 2023 FW13 mengorbit matahari seiring dengan Bumi, dan perhitungan orbit menunjukkan bahwa batuan angkasa ini telah mengelilingi Bumi sejak 100 SM dan diperkirakan akan tetap di sana setidaknya hingga tahun 3700 M.
Adrien Coffinet, seorang jurnalis di situs berita Prancis, Futura - Inspirons l'avenir, adalah orang pertama yang menarik perhatian pada orbit asteroid ini. Dengan menggunakan simulator orbit yang dikembangkan oleh astronom amatir Tony Dunn, Coffinet menyimpulkan bahwa asteroid ini dapat dianggap sebagai quasi-bulan atau quasi-satelit Bumi.
Meskipun asteroid 2023 FW13 bergerak seiring dengan Bumi, para astronom menyatakan bahwa pengaruh matahari lebih signifikan terhadap pergerakan objek ini. Dengan jarak sekitar 15 juta kilometer dari Bumi setiap tahunnya, asteroid ini tetap berada dalam batas yang aman, jauh lebih jauh daripada Bulan yang berjarak sekitar 360.000 km dari Bumi pada titik terdekatnya.
Penemuan ini menciptakan perbandingan menarik dengan asteroid Kamo'oalewa atau 2016 HO3, yang juga dianggap sebagai quasi-bulan dan tidak pernah menjauh terlalu jauh dari Bumi. Para astronom, setelah menelusuri data arsip sejak tahun 2012, memperkirakan bahwa 2023 FW13 telah mengorbit Bumi sejak 100 SM dan akan tetap di sana hingga tahun 3700 M.
Meskipun kedua asteroid ini tidak dianggap sebagai ancaman bagi Bumi, penemuan ini memberikan wawasan baru tentang kompleksitas tata surya kita dan menimbulkan pertanyaan tentang seberapa banyak lagi objek langit yang mungkin belum terdeteksi mengelilingi planet kita.
Baca juga: Laboratorium bawah tanah terdalam di dunia mulai beroperasi di China