Sulawesitoday - Ketika pertama kali dengar tentang Bastian Firjon—atau Babas, begitu ia dipanggil—rasanya langsung kagum. Babas, remaja berusia 13 tahun, berhasil viral setelah video aksinya membuka jalan bagi ambulans yang terjebak di tengah kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Kota Tangerang. Mungkin kamu sudah lihat videonya, bagaimana ia dengan penuh keberanian meminta pengendara lain untuk menyingkir dan memberikan ruang bagi ambulans tersebut.
Semua orang membicarakan aksinya, tapi kalau kita lihat lebih dalam, hidup Babas sendiri jauh lebih dramatis daripada video viral itu.
Babas, seorang yatim piatu, memutuskan berhenti sekolah sejak kelas 5 SD. "Ibu sama bapak saya sudah meninggal, saya tinggal sama nenek, dan adik yang berusia 3 tahun," katanya. Dari ceritanya, jelas bahwa kehidupannya tidak mudah. Ia membantu keluarganya dengan bekerja sebagai tukang parkir. Setiap hari, ia mangkal di salah satu pertokoan, mengandalkan penghasilan dari uang parkir yang tidak seberapa. Tapi, Babas nggak berhenti di situ. Dia melakukan lebih dari sekadar bertahan hidup.
Baca Juga: Momen Nahas di Hari Pelantikan: Anggota Satpol PP Tersengat Listrik, Satu Tewas di Tempat!
Di luar pekerjaannya sebagai tukang parkir, Babas juga sering membantu ambulans yang kesulitan menerobos kemacetan. "Banyak banget mobil ambulan ambil jalur lawan arah untuk bisa mendapat jalur cepat," jelasnya. Bagi Babas, tindakan ini bukan hal baru. Ketika ia melihat ambulans yang terjebak di kemacetan pada hari Minggu itu, ia langsung bertindak.
"Saya lihat dari jauh mobil itu kesusahan untuk menerobos kemacetan," lanjutnya. Tanpa ragu, dia turun ke tengah jalan dan melambaikan tangan, meminta pengendara lain untuk minggir. Dan, dengan itu, ambulans pun bisa melaju lebih cepat.
Melihat Babas beraksi, sulit untuk tidak terharu. Di balik sosok remaja ini, ada cerita tentang ketabahan dan keberanian yang jarang ditemukan. Dengan tangan kosong, ia berusaha membantu orang lain, bahkan saat kehidupannya sendiri penuh tantangan. Babas tidak hanya pahlawan bagi ambulans hari itu, tetapi juga simbol ketangguhan di tengah kesulitan hidup.
Tapi, yang paling menyentuh adalah ketika Babas berbicara tentang alasan mengapa ia melakukannya. "Saya lari ke tengah jalan, karena enggak ada yang mau bantu, akhirnya saya turun," katanya. Kalimat itu sederhana, tapi sarat makna. Babas tidak menunggu orang lain untuk bertindak. Di saat orang lain hanya menonton atau bahkan mengabaikan, dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Kisah Babas mungkin hanya sepotong dari perjalanan hidupnya, tapi dari aksinya kita bisa belajar banyak. Bahwa keberanian dan kepedulian bisa datang dari siapa saja, bahkan dari seorang remaja yang hidupnya penuh cobaan.