berita

Banjir Melumpuhkan Sekolah dan Layanan Kesehatan: 4575 Warga Mengungsi di Sanggau, Kalbar

Minggu, 20 Oktober 2024 | 15:19 WIB
Banjir di Sanggau melumpuhkan sekolah dasar dan layanan kesehatan, mengakibatkan 4.575 warga mengungsi dan kondisi darurat berlanjut. #BanjirSanggau #Pengungsian (Muhammad Aqil Azizi)

Sulawesitoday - Banjir besar di Desa Sosok, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, telah mengakibatkan dampak serius bagi masyarakat, terutama dalam sektor pendidikan dan layanan kesehatan. Empat sekolah dasar terendam air, membuat ribuan siswa harus absen dari kegiatan belajar mengajar. Ini bukan hanya tentang siswa yang kehilangan waktu di kelas—lebih dalam dari itu, pendidikan dasar adalah pondasi yang sangat penting bagi perkembangan anak-anak di daerah ini. Sayangnya, akses ke pendidikan sekarang terhenti oleh air yang menggenangi ruang-ruang kelas.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa banjir yang disebabkan oleh curah hujan tinggi dan limpasan dari Sungai Sekayu dan Sungai Tayan telah menggenangi delapan dusun dengan ketinggian air mencapai 1 hingga 1,5 meter. Dampak dari bencana ini tidak main-main, menyebabkan 4.575 warga harus mengungsi ke posko banjir. Banyak keluarga masih memilih untuk tinggal di tempat pengungsian karena kekhawatiran akan banjir susulan.

Baca Juga: Ini Identitas 4 Korban Pesawat SAM Air Gagal Mendarat di Pohuwato, Gorontalo

"Empat sekolah dasar dan beberapa sarana kesehatan terendam, mengganggu layanan yang vital bagi warga," kata Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. Layanan kesehatan yang biasanya menjadi tulang punggung masyarakat kini lumpuh. Bagi banyak warga, klinik dan puskesmas merupakan tempat pertama mereka pergi ketika menghadapi masalah kesehatan—mulai dari cedera ringan hingga penyakit yang lebih serius. Dengan fasilitas ini terendam, warga yang membutuhkan layanan kesehatan kini harus mencari alternatif lain, atau bahkan menunggu bantuan medis datang ke lokasi pengungsian.

Banjir ini tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental warga, khususnya anak-anak dan lansia yang rentan terhadap trauma bencana. Mereka yang mengungsi di posko—termasuk di kantor desa dan rumah kepala desa—harus bertahan dengan kondisi darurat, di mana makanan dan kebutuhan dasar disalurkan secara bertahap. Dua tenda pengungsian di dusun Barage, misalnya, saat ini menampung 22 jiwa, sementara pengungsi lainnya menumpang di rumah-rumah warga yang lebih aman dari terjangan air.

Baca Juga: Gagal Mendarat, Pesawat SAM Air Tewaskan 4 Orang di Pohuwato: Apa yang Terjadi di Menit-menit Akhir?

Terkait dengan kondisi jalan, beberapa akses sudah mulai surut, seperti jalan poros sepanjang 1,5 kilometer yang kini telah kembali aman untuk dilalui. Namun, meski beberapa jalan sudah bisa digunakan, kekhawatiran akan potensi banjir susulan membuat warga tetap waspada.

Kondisi ini mempertegas betapa pentingnya tindakan cepat dan tepat dari pihak berwenang. Evakuasi dan pemantauan di lapangan oleh tim gabungan BPBD Kabupaten Sanggau terus dilakukan, namun tantangannya tidak sederhana. Banyak warga yang masih bertahan di rumah dengan membuat panggung atau tinggal di lantai atas. Meskipun bantuan logistik terus disalurkan, kondisi di lapangan membutuhkan koordinasi yang lebih intens agar layanan dasar bisa segera pulih dan warga dapat kembali menjalani aktivitas normal.

Baca Juga: Pesawat SAM Air Jatuh di Gorontalo: Apakah Cuaca Buruk Penyebab Kecelakaan Fatal?

Dengan sekolah yang terendam dan layanan kesehatan yang tidak berfungsi optimal, dampak dari banjir ini akan terasa dalam waktu yang lama. Tidak ada yang tahu pasti kapan kondisi akan kembali normal. Yang jelas, pemulihan harus segera dimulai sebelum dampak lebih luas terasa, terutama bagi pendidikan anak-anak dan kesehatan masyarakat.

Tags

Terkini