berita

Setelah Tujuh Hari Tanpa Hasil, Tim SAR Setop Pencarian Pemuda Nekat di Bendungan Benteng

Jumat, 8 November 2024 | 20:32 WIB
Pencarian korban yang hilang usai melompat dari Bendungan Benteng dihentikan. Tragedi ini jadi pengingat akan bahaya membuat konten ekstrem. #TragediBendungan #KontenMediaSosial #KeselamatanDiri #SAR (Nur Rafiqa)

Sulawesitoday - Pencarian selama tujuh hari untuk menemukan Jihad Ramadhani, seorang pemuda berusia 22 tahun yang hilang setelah melompat dari Bendungan Benteng di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, akhirnya dihentikan. Meski upaya intensif telah dilakukan oleh tim gabungan SAR, hasilnya tetap nihil. Keputusan untuk menghentikan pencarian ini tidak mudah, namun diambil sesuai amanat Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang pencarian dan pertolongan.

“Kami sudah melakukan pencarian hingga hari ketujuh, namun hasilnya tetap belum memuaskan. Kondisi di lapangan pun semakin menyulitkan,” ujar Dadang Tarkas, Danpos Basarnas Parepare. Dengan menggunakan perahu karet, tim SAR membagi diri menjadi tiga kru dan menyisir Sungai Saddang, mulai dari Bendungan Benteng hingga Jembatan Lasape—jarak yang mencapai 12 kilometer. Bahkan, penyisiran dilanjutkan hingga ke muara Sungai Tanro, yang berjarak 25 kilometer dari lokasi terakhir korban terlihat.

Baca Juga: Mantan Bintang Timnas Terlibat Peredaran Obat Terlarang: Dalih Ekonomi, Tapi Fakta Berbicara Lain

Kondisi medan pencarian yang sulit membuat upaya pencarian semakin penuh tantangan. Dadang mengungkapkan, air Sungai Saddang yang surut menyebabkan perahu karet sering terjebak dan kandas. “Kita menghadapi beberapa kendala karena debit air yang berkurang, mengakibatkan akses dengan perahu karet tidak semulus harapan,” ujarnya.

Di luar aspek teknis, ada juga kejanggalan lain yang dihadapi tim SAR. Normalnya, tubuh orang yang tenggelam akan muncul ke permukaan dalam waktu empat hari. Namun, hingga hari ketujuh, tanda-tanda keberadaan korban tidak kunjung terlihat. Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi tim SAR dan keluarga korban. Dadang mengaku keheranan, “Biasanya, kalau sudah empat hari, tubuh korban akan mengapung. Tapi ini hari ke empat dan kelima pun tidak ada tanda-tanda. Kita semua masih bertanya-tanya.”

Baca Juga: Pilkada Serentak 2024 Jadi Hari Libur Nasional? Ini Rencana Pemerintah

Meski pencarian dihentikan, pihak keluarga, terutama bapak angkat korban, menyampaikan rasa terima kasih atas upaya yang telah dilakukan oleh tim SAR. Dalam pernyataannya, Dadang mengatakan, “Keluarga besar korban sangat berterima kasih atas perjuangan kami selama tujuh hari ini. Kami juga memohon maaf jika ada kata atau tindakan yang menyinggung.”

Insiden ini mengungkap sisi gelap dari tren konten media sosial yang kian meresahkan. Berdasarkan keterangan dari Lurah Benteng dan Kapolsek setempat, diduga kuat Jihad melompat demi membuat konten media sosial. Dalam pernyataan Kalaksa BPBD Pinrang, Rhommy RM Manule, disebutkan bahwa aksi nekat ini didorong oleh keinginan untuk menciptakan konten yang menarik perhatian. Malang bagi Jihad, aksi yang seharusnya menghibur justru berujung pada hilangnya nyawa di arus deras bendungan.

Baca Juga: Keputusan Penting Prabowo, 10 Nama Calon Pimpinan KPK Siap Diproses DPR

Kasus ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi semua kalangan, terutama anak muda yang aktif di media sosial. Upaya untuk meraih popularitas tidak seharusnya mengorbankan keselamatan diri sendiri. Dengan dihentikannya pencarian ini, semoga kita semua lebih bijaksana dalam memanfaatkan media sosial dan memahami risiko dari setiap tindakan yang kita lakukan.

Di tengah duka dan ketidakpastian ini, harapannya adalah agar insiden serupa tidak terjadi lagi. Tragedi ini mengajarkan kita bahwa tidak semua konten perlu dipertaruhkan dengan nyawa. Mari kita jaga diri, dan jika perlu, tetaplah kritis dalam melihat tren yang ada di media sosial. Tidak ada yang lebih berharga dari nyawa dan keselamatan kita.

Tags

Terkini