• Selasa, 21 Juli 2026

Begal Kecil di Palu: Ditangkap Bawa Sajam, Menangis Saat Digelandang

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Minggu, 11 Mei 2025 | 17:01 WIB
anak ditangkap bawa sajam di Palu. Nangis saat ditangkap. Jalanan gelap, tapi yang lebih suram: kelalaian orang dewasa.
anak ditangkap bawa sajam di Palu. Nangis saat ditangkap. Jalanan gelap, tapi yang lebih suram: kelalaian orang dewasa.

Sulawesitoday - Tim Jaguar Polresta Palu kembali bekerja malam itu. Jalan Sungai Maninda, yang kerap jadi panggung peristiwa kriminal, kembali memperlihatkan lakon lamanya—kali ini dengan pemeran utama yang lebih kecil dari biasanya.

Dua anak berseragam preman ditangkap saat kedapatan membawa senjata tajam. Umurnya? Masih jauh dari batas usia SIM. Dan yang membuat adegan ini makin menyayat: mereka menangis. Bukan karena luka, tapi karena ketahuan.

Video penangkapan itu pertama kali mampir ke linimasa lewat akun Facebook @Sulivis Simpepijis. “Lagi-lagi di Jalan Sungai Maninda,” tulisnya, seperti orang yang sudah bosan mengeluh tapi tak bisa berhenti.

Keterangan dari pihak Polresta tak bertele-tele. “Mereka membawa sajam, kami amankan untuk proses lebih lanjut,” kata AKP Firman Hidayat, Kasat Reskrim Polresta Palu.

Tapi berita tak berhenti di ruang penyidik. Di media sosial, komentar mengalir lebih deras dari hujan Palu semalam. Ada yang marah, ada yang skeptis, dan ada juga yang hanya mengelus dada sambil mengetik: “Di mana orang tuanya?”

Akun @Zakia Amran menulis: “Kasi masuk saja, suruh ortunya jemput. Biar tahu rasa.” Lalu ada komentar dari @Moh Rifai yang menyalahkan HAM: “Inilah akibat HAM yang kebablasan, anak tidak takut melanggar.” Mungkin ada benarnya. Mungkin juga itu pelampiasan frustrasi kolektif.

Tapi pertanyaannya sederhana: bagaimana anak-anak bisa nyaman membawa sajam? Di jalanan pula. Di malam hari.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Sulawesitoday.com (@sulawesitoday)

 Apakah semua ini soal keberanian bocah atau kelengahan sistem yang sudah terlalu sibuk dengan angka dan rapat?

Sekolah sibuk mengejar kurikulum. Orang tua sibuk mengejar nasi. Negara—entahlah—sibuk dengan yang lain.

Baca Juga: Bukan Ikan Biasa: 60 Bungkus Sabu Disembunyikan dalam Perut Bandeng, A-L Diciduk

Anak-anak itu kini dalam perlindungan UU Sistem Peradilan Pidana Anak. Ya, perlindungan. Karena bagaimanapun, hukum harus punya wajah yang lebih manusiawi dari senjata yang mereka bawa.

Tapi kota ini tak butuh air mata anak-anak di ujung borgol. Ia butuh jalanan yang tak harus dilintasi dengan rasa takut—dan rumah yang tak kehilangan fungsinya: mengawasi, membimbing, dan menyayangi.

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini