• Selasa, 21 Juli 2026

Empat Residivis Curanmor dan Pembobol Rumah Dibekuk, Beraksi di 36 TKP Berbeda

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Rabu, 1 Oktober 2025 | 18:27 WIB
Polda Sulteng bekuk 4 residivis curanmor dan pembobol rumah yang beraksi di 36 TKP. Ancaman 7 tahun penjara menanti para pelaku.
Polda Sulteng bekuk 4 residivis curanmor dan pembobol rumah yang beraksi di 36 TKP. Ancaman 7 tahun penjara menanti para pelaku.

Sulawesitoday - Operasi besar-besaran dilakukan. Unit Resmob Jatanras Ditreskrimum Polda Sulteng berhasil menggelandang empat pelaku curanmor dan pembobolan rumah yang beraksi di puluhan lokasi. Keempat residivis ini meninggalkan jejak kejahatan di 36 titik berbeda, tersebar di Kota Palu dan Kabupaten Sigi.

Aksi mereka terbongkar berkat kerja keras tim penyelidik. Dimulai dari penangkapan satu tersangka, kemudian berkembang menjadi pengungkapan sindikat yang lebih besar. Kini, keempat pelaku sudah mendekam di balik jeruji besi.

  • Bagaimana Polisi Membongkar Jaringan Ini?

Direktur Reskrimum Polda Sulteng, Kombes Pol Djoko Tjahjono menuturkan kronologinya. Penangkapan pertama terjadi dini hari. Tepatnya Senin, 22 September 2025. Lokasi: Jalan Padanajakaya, Lorong Ramayana. Kelurahan Pengawu menjadi saksi bisu.

Tersangka berinisial QA (20) diamankan. Pemuda ini ternyata juru kunci kasus ini. Melalui interogasi mendalam, benang kusut mulai terbuka. Satu per satu nama tersangka lain terungkap.

Tim resmob bergerak cepat selanjutnya. Tiga tersangka lain berhasil diringkus. DA (22) ditangkap di lokasi berbeda. FM (22) menyusul tak lama kemudian. AS (27) menjadi yang terakhir diamankan. Semuanya kini dalam tahanan.

"QA mengaku lakukan 20 kali curanmor. DA bertanggung jawab atas 13 pembobolan rumah. FM mencuri tiga kali. Sedangkan AS, dia penadah barang curian," ungkap Kombes Djoko Tjahjono, Rabu (1/10/2025).

Angka-angka itu mengerikan. Total 36 aksi di lapangan. Belum terhitung barang yang sudah laku terjual. Jaringan penadahan masih diburu hingga sekarang.

  • Modus Apa yang Digunakan Para Pelaku?

Para residivis ini punya pola kerja sistematis. Target utama: area masjid yang sepi. Rumah kos mahasiswa jadi incaran berikutnya. Fasilitas umum tak luput dari bidikan. Kendaraan bermotor menjadi primadona pencurian.

Waktu aksi dipilih dengan cermat. Dini hari menjadi momentum favorit. Saat warga tidur pulas, mereka bergerak. Kunci kontak dipreteli dengan alat khusus. Gembok digergaji tanpa suara keras.

Barang hasil kejahatan langsung dialirkan. Jaringan penadah sudah standby menunggu. Harga jual di bawah pasaran. Uang cepat cair, jejak makin kabur. Pola ini berulang puluhan kali.

"Modusnya selalu mengincar barang berharga. Kendaraan motor jadi target utama. Elektronik dan perhiasan juga dibawa. Kemudian dijual ke penadah gelap," jelas Kombes Djoko Tjahjono.

Dua unit sepeda motor berhasil diamankan. Yamaha Mio M3 dan Honda Beat Street. Keduanya milik korban berbeda. Puluhan motor lain masih dalam pelacakan. Barang elektronik tersebar di berbagai tempat.

  • Bagaimana Perasaan Korban yang Kehilangan?

Sumardin, warga Bayaoge, Palu merasakan lega mendalam. Motornya yang hilang minggu lalu kembali. Tim resmob Polda Sulteng mengembalikannya langsung. Air mata haru mengalir di pipinya.

"Terima kasih banyak pak polisi. Saya sangat bersyukur sekali. Motor saya sudah kembali lagi," ujar Sumardin dengan suara bergetar. Rasa syukur terpancar dari wajahnya.

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini