• Kamis, 4 Juni 2026

Mamasa Darurat Sampah! 60 Petugas Mogok Kerja, Gaji Rp460 Juta Tak Kunjung Dibayar

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Selasa, 8 Oktober 2024 | 14:05 WIB
Krisis sampah di Mamasa akibat gaji petugas kebersihan yang tak dibayar berbulan-bulan, memicu ancaman kesehatan bagi warga.  #MamasaCrisis #KebersihanMamasa #PetugasMogok (Muhammad Aqil Azizi)
Krisis sampah di Mamasa akibat gaji petugas kebersihan yang tak dibayar berbulan-bulan, memicu ancaman kesehatan bagi warga. #MamasaCrisis #KebersihanMamasa #PetugasMogok (Muhammad Aqil Azizi)

Sulawesitoday - Krisis kebersihan di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, kian memprihatinkan. Sudah empat hari berlalu sejak 60 petugas kebersihan melakukan mogok kerja karena gaji mereka yang belum dibayar selama empat bulan. Situasi ini memunculkan tumpukan sampah yang berserakan di sejumlah lokasi, menimbulkan keresahan warga.

Menurut Welem, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Mamasa, petugas kebersihan yang mogok berstatus sebagai tenaga kontrak.

Baca Juga: Kisah Pilu di Balik Kebakaran Luwuk: Anak Disabilitas Terjebak dalam Api, Tewas dengan 99% Luka Bakar

“Gaji mereka belum dibayar dari bulan Juni, sudah empat bulan sekarang,” ujarnya. Jumlah total gaji yang belum dibayarkan mencapai Rp 460 juta, dengan setiap petugas menerima Rp 1.750.000 per bulan.

Yang membuat situasi semakin rumit adalah ketidakmampuan pemerintah daerah menyediakan anggaran untuk membayar gaji. “Memang mungkin tidak punya uang,” kata Welem, dengan nada jujur yang tidak bisa disembunyikan. Setiap kali dia mengajukan permintaan ke bagian keuangan, jawabannya tetap sama—tidak ada uang. Seolah pemerintah daerah benar-benar berada di ambang krisis keuangan.

Kondisi ini jelas memengaruhi kebersihan kota. Sampah mulai menggunung di beberapa titik, bahkan sampai masuk ke badan jalan.

Welem sendiri mengakui, “Sudah masuk di badan jalan, beberapa tempat sudah sangat parah.” Situasi ini tidak hanya menimbulkan masalah estetika, tetapi juga menciptakan ancaman kesehatan bagi masyarakat.

Salah satu warga, Elis, yang tinggal di sekitar Pasar Mamasa, sangat terganggu dengan situasi ini. "Sangat mengganggu terutama kami yang tinggal di tempat ini. Terganggu dengan sampah yang sangat berbau juga banyak lalat," kata Elis. Dia, bersama banyak warga lain, terpaksa hidup dengan aroma busuk yang menyengat dan keberadaan lalat yang semakin bertambah.

Gambaran yang lebih nyata tentang krisis ini bisa dilihat dalam video yang beredar di media sosial. Tumpukan sampah terlihat di sekitar Pasar Mamasa, bahkan memenuhi bak pembuangan di depan SDN 001 dan 002 Mamasa.

Sampah yang tidak tertangani selama beberapa hari ini berserakan hingga mengambil sebagian badan jalan, menjadi pemandangan sehari-hari yang tak bisa dihindari warga.

Meski masyarakat mulai merasa putus asa, solusi sepertinya masih jauh dari jangkauan. Krisis keuangan yang dihadapi pemerintah daerah membuat kondisi ini seperti lingkaran setan yang sulit dipecahkan. Tanpa dana, tanpa gaji, dan tanpa kebersihan yang layak, situasi di Mamasa kian meresahkan.

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini