Sulawesitoday - Penemuan mayat KA (21), seorang ibu muda, di kamar kosnya di Kelurahan Mannuruki, Makassar, mengejutkan warga sekitar. Bau busuk yang tercium dari dalam kamar itu memicu tetangga untuk melapor kepada pihak berwenang, yang segera bertindak.
Polisi akhirnya menemukan tubuh KA dalam kondisi yang mengenaskan—membengkak dan mengeluarkan cairan, menandakan bahwa korban sudah meninggal selama kurang lebih empat hari.
Yang lebih mengejutkan lagi, suami korban, PA (22), telah diidentifikasi sebagai pelaku utama dalam kasus ini. Menurut AKP Aris Sumarsono, Kapolsek Tamalate, keduanya sering bertengkar sebelum insiden tragis ini terjadi.
"Iya, korban dibunuh oleh suaminya sendiri," jelas Aris pada hari Rabu (23/10/2024). Ia juga menambahkan bahwa saat ini polisi tengah mendalami lebih lanjut motif di balik kejadian tersebut. Suaminya sudah diamankan, namun alasan pasti dari cekcok yang memuncak hingga berujung pembunuhan masih dalam proses penyelidikan.
Kejadian ini menambah daftar panjang kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di Indonesia, khususnya di daerah-daerah urban seperti Makassar. Sering kali, pertikaian kecil dapat berubah menjadi kekerasan fisik yang berujung maut.
"Motifnya bertengkar, sering bertengkar. Cekcok rumah tangga," ungkap AKP Aris, menegaskan bahwa konflik di antara keduanya sudah berlangsung cukup lama.
Baca Juga: Tidak Main-main! Kerugian Negara Rp13,57 Miliar dari Gempuran Rokok Ilegal di Sulsel
Ketika polisi pertama kali tiba di lokasi kejadian, mereka harus memanggil pejabat setempat untuk membuka pintu kamar kos yang terkunci dari dalam. Pemandangan yang mereka temui sungguh mengenaskan. Iptu Rahman, Kanit Reskrim Polsek Tamalate, yang memimpin penyelidikan awal, menjelaskan bagaimana tubuh korban sudah berada dalam kondisi pembusukan.
“(Badan korban) sudah membengkak, kurang lebih sudah sekitar 4 hari meninggal. Keluar cairan dari badannya," ujarnya.
Yang lebih memilukan, KA diketahui telah meninggalkan seorang anak kecil, namun saat ditemukan, baik suami maupun anaknya tidak berada di tempat. Keadaan ini menimbulkan banyak pertanyaan di antara warga sekitar, mengingat bagaimana tragedi seperti ini bisa terjadi di lingkungan yang padat seperti Mannuruki.
Kasus ini juga menarik perhatian publik terkait langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh pemerintah dan aparat hukum untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Penguatan sistem perlindungan bagi korban kekerasan, terutama di wilayah-wilayah yang padat penduduk seperti kota besar, sangat diperlukan.
Artikel Terkait
Sangat Brutal! Tenaga Medis Terjebak Tanpa Bantuan, Pasien Meninggal Akibat Israel Hancurkan Rumah Sakit Indonesia di Gaza
Kisah Tragis Balita Tewas Terseret 600 Meter Korban Tabrak Lari dari Pelaku Diduga Terlibat Curanmor di Balikpapan
Tidak Main-main! Kerugian Negara Rp13,57 Miliar dari Gempuran Rokok Ilegal di Sulsel
Ancaman Serius! Pelaku Peredaran Sabu 25 Gram di Morowali Potensi 20 Tahun Penjara dan Denda Miliaran Rupiah
Kisah Kasus Guru Honorer vs Anak Polisi, Penangguhan Penahanan Supriyani Memantik Diskusi Keadilan Sosial