Sulawesitoday - Dua tukang ojek muda asal Sulawesi Selatan, Imran (23) dan Asrun Eko Putra (24), tewas dalam insiden penembakan tragis yang terjadi di Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Keduanya, yang merantau dari Kabupaten Gowa dan Takalar, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa setelah menjadi korban penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Peristiwa ini terjadi pada Kamis sore, 21 November 2024, di Kampung Weni, Distrik Mage'abume.
Menurut Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz-2024, Kombes Bayu Suseno, korban Imran berasal dari Barombong, Kabupaten Gowa, sementara Asrun, yang sudah menikah, adalah warga Desa Bontosunggu, Galesong Utara, Kabupaten Takalar.
Baca Juga: Nelayan Salah Tunjuk Arah, Kapal Enam Penumpang Tersesat dari Mamuju ke Balikpapan
"Imran alamat sesuai KTP Barombong, Kabupaten Gowa. Asrun status kawin dan beralamat di Kolongkong," ungkap Bayu dalam keterangan resminya pada hari Jumat (22/11).
Situasi di lapangan menjadi semakin rumit karena akses menuju lokasi kejadian sangat sulit. Hingga saat ini, jenazah kedua korban belum bisa dievakuasi. Kombes Bayu menyatakan bahwa timnya menghadapi tantangan besar karena jembatan yang menghubungkan Distrik Sinak dan Mageabume terputus, menghambat proses evakuasi.
Baca Juga: Komdigi Blokir Ratusan Rekening Judi Online, BCA Jadi Sasaran Utama
"Jenazah korban belum dievakuasi dikarenakan akses jalan yang tidak memungkinkan akibat dari adanya jembatan penghubung antara Distrik Sinak dan Distrik Mageabume terputus," jelasnya.
Upaya untuk mengevakuasi jenazah akan terus dilakukan. Kombes Bayu menegaskan bahwa evakuasi direncanakan pada hari Jumat ini, meskipun kondisi cuaca dan infrastruktur jalan yang rusak menjadi hambatan utama.
Baca Juga: Unggul 35,5 Persen! Nizar-Ardi Diprediksi Kuasai Parigi Moutong: Figur Kharismatik Jadi Magnet
"Direncanakan proses evakuasi akan dilakukan pada hari ini," katanya. Sementara itu, pengamanan di wilayah Puncak telah diperketat untuk mengantisipasi adanya aksi lanjutan dari KKB, yang kerap memanfaatkan kondisi rawan seperti ini.
Kasus penembakan yang menewaskan dua tukang ojek ini menjadi sorotan karena menyasar warga sipil yang tidak terlibat konflik. Kejadian ini bukan hanya sekadar angka statistik, melainkan sebuah tragedi yang menghantam keluarga-keluarga di Sulawesi Selatan.
Di Takalar, keluarga Asrun harus menerima kenyataan pahit bahwa anak mereka, yang sebelumnya mencari penghidupan di tanah perantauan, kini telah meninggalkan mereka untuk selamanya. Perasaan serupa tentu dialami oleh keluarga Imran di Gowa, yang mendapati kabar bahwa putra mereka telah gugur di ujung timur Indonesia.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan serius tentang keamanan warga sipil di Papua, terutama mereka yang hanya berusaha mencari nafkah. Penembakan ini bukanlah insiden pertama di wilayah tersebut. Menurut data yang dihimpun, aksi kekerasan oleh KKB seringkali terjadi di wilayah-wilayah terpencil Papua, khususnya di daerah-daerah yang aksesnya terbatas dan sulit dijangkau aparat keamanan.
Artikel Terkait
KPK Tanpa OTT, Usulan Johanis Tanak Diterima dengan Sorak Komisi III DPR
Pria Ini Janji Ngesot Sampai Madura Jika Timnas Indonesia Menang Lawan Arab Saudi, Netizen Tunggu Aksinya
Unggul 35,5 Persen! Nizar-Ardi Diprediksi Kuasai Parigi Moutong: Figur Kharismatik Jadi Magnet
Komdigi Blokir Ratusan Rekening Judi Online, BCA Jadi Sasaran Utama
Nelayan Salah Tunjuk Arah, Kapal Enam Penumpang Tersesat dari Mamuju ke Balikpapan