Sulawesitoday, 7 Mei 2014 - Petani rugi. Sungai tercemar. Kebun rusak. Tapi tambang emas ilegal terus menggali.
Di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, tambang liar bukan sekadar lubang di tanah. Ia menjadi lubang dalam harapan para petani. Kamar Dagang dan Industri (KADIN) setempat akhirnya bersuara: cukup.
Faradiba Zaenong, Ketua KADIN Parimo, tidak menahan diri. “Petani kebun dan sawah yang paling merasakan dampaknya. Masa cuma penambang ilegal saja yang mau untung?” katanya.
Ada alasan kenapa suara itu baru sekarang terdengar lebih keras. Tambang emas ilegal, yang semula bergerak di bayang-bayang, kini mulai terang-terangan menebar dampak. Sungai dan irigasi mulai kehilangan kejernihannya. Air berubah warna, tanaman tak lagi berbuah seperti biasa.
Lahan-lahan yang dulunya hijau kini penuh jejak ekskavator. Lahan milik warga berubah jadi area konflik diam-diam: antara keinginan cepat kaya dan kenyataan perut kosong yang tak bisa disuap logam mulia.
Di saat yang sama, pemerintah dan petani durian sedang mempersiapkan ekspor besar-besaran ke China. Sebuah peluang yang, kata Faradiba, bisa mengundang investasi triliunan rupiah ke Parimo. Tapi, tambang ilegal seperti hantu di tengah pesta panen: tidak diundang, tapi ikut merusak jamuan.
“Kalau ekspor ini gagal hanya karena tanah dan air kita rusak, siapa yang akan bertanggung jawab?” tanyanya. Retoris, tentu saja. Karena sejauh ini, yang bertindak justru minim, yang menambang justru ramai.
Faradiba menaruh harapan pada Kapolres baru, AKBP Hendrawan Agustian Nugraha. Tapi harapan saja tak cukup. Ia meminta langkah konkret. “Tangkap para cukong. Jangan cuma yang pegang cangkul yang kena,” ujarnya, dengan nada lebih dari sekadar kecewa. Ia bahkan menyarankan agar aparat bertindak di luar pola lama. “Harus out of the box,” katanya.
Baca Juga: 60 Kontainer Durian Sudah Tembus, Cina Tunggu Protokol Resmi
Sebuah istilah yang biasa dipakai dalam seminar wirausaha, tapi kali ini digunakan untuk membereskan tambang ilegal.
Pertanyaannya: apakah hukum bisa lebih gesit dari alat berat?
Atau, seperti biasa, petani hanya akan diberi janji... dan lubang?