Sulawesitoday - Di persimpangan kota, saat jarum jam beradu dengan detak klakson, satu keputusan sembrono bisa mengubah segalanya. Menerobos lampu merah—tindakan yang kerap dianggap sepele, justru menyimpan risiko besar. Nyawa melayang tak mengenal penyesalan.
Sayangnya, masih banyak pengendara yang merasa aturan dibuat untuk dilanggar. Bagi mereka, lampu merah hanyalah gangguan visual di tengah padatnya jalan. Padahal, satu detik melaju saat seharusnya berhenti bisa merenggut lebih dari sekadar waktu: bisa nyawa, bisa kebebasan.
Hukum sebenarnya tak tinggal diam. Pasal 287 ayat (2) UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dengan jelas menyatakan: siapa pun yang melanggar perintah isyarat lalu lintas, bisa dipidana dua bulan penjara atau denda hingga Rp500.000. Cukup untuk membayar dua kali servis rutin kendaraan, bukan?
Namun, ada juga pengecualian. Dalam kondisi darurat seperti kebakaran, bencana alam, kerusuhan, atau kendaraan prioritas seperti ambulans dan pemadam, pelanggaran lampu merah diperbolehkan. Tentu, dengan alasan kuat dan bukti sahih.
Persoalannya, banyak pengendara yang merasa darurat hanya karena telat ngopi pagi.
Belum lagi pelanggaran lain yang makin variatif dan ‘kreatif’. Anak di bawah umur yang nekat bawa motor, bisa kena denda hingga Rp1 juta (Pasal 281). Berboncengan tiga orang? Siapkan Rp250 ribu (Pasal 292). Main HP sambil gas motor? Itu bisa bikin bon tambahan Rp750 ribu (Pasal 283). Dan kalau Anda gemar melawan arus atau pakai knalpot yang suaranya mirip petasan tahun baru, masing-masing siap-siap Rp500 ribu dan Rp250 ribu (Pasal 287 & 285).
Baca Juga: Tolitoli Tingkatkan Pendaftaran Merek, Siapkan Kerang Kima Raih Indikasi Geografis
Tentu, angka-angka itu tak seberapa dibanding nilai satu nyawa. Tapi di tengah hiruk-pikuk jalanan, sepertinya suara peluit petugas kalah nyaring dengan ego pengemudi.
Jalan raya bukan arena uji nyali. Setiap marka, setiap lampu, setiap rambu, punya alasan untuk ada. Bukan hiasan kota, melainkan tameng terakhir dari kekacauan. Maka pertanyaannya: berani menerobos? Atau berani bertanggung jawab?