kriminal

Ekscavator Kembali Mengaum di PETI Karya Mandiri, Kades Dicurigai Beri Restu

Jumat, 26 Desember 2025 | 13:58 WIB
Ekscavator kembali beroperasi di tambang ilegal Desa Karya Mandiri sehari pasca operasi. Kades diduga beri lampu hijau.

Sulawesitoday - Mesin ekscavator kembali mengaum. Lokasi yang baru saja disisir Polda Sulteng kini ramai lagi. Tambang ilegal di Desa Karya Mandiri, Kabupaten Parigi Moutong, sepertinya tak gentar dengan operasi penegakan hukum yang baru berlalu sehari sebelumnya.

Alat berat mulai masuk. Penambang tanpa izin berani bergerak terang-terangan. Seolah tak ada yang perlu ditakuti. Padahal, tim gabungan Polda Sulawesi Tengah baru saja menyelesaikan operasi besar-besaran untuk memberantas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah tersebut.

Yang mencuat kemudian adalah dugaan keras. Kepala Desa Karya Mandiri, Norma, disinyalir memberikan "lampu hijau" bagi aktivitas ilegal ini. Beberapa warga mengaku melihat ekscavator masuk kembali sesaat setelah petugas kepolisian meninggalkan kawasan. Kebetulan? Atau memang ada pengaturan?

  • Apakah Ada Jaminan Keamanan dari Oknum Tertentu?

Keberanian para pelaku PETI patut dipertanyakan. Mereka seperti punya backing kuat. Tidak mungkin nekad tanpa ada jaminan. Informasi dari lapangan mengindikasikan adanya pembiaran sistematis dari pihak yang berpengaruh di desa.

"Ini bukan pertama kali. Setiap kali ada operasi, beberapa hari kemudian alat berat kembali masuk. Pasti ada yang melindungi mereka," ungkap seorang warga yang enggan disebutkan identitasnya karena khawatir akan keselamatannya.

Praktik kucing-kucingan ini mencederai upaya penegakan hukum. Polda Sulteng sudah berupaya keras. Namun jika ada oknum yang memberi celah, semua usaha jadi sia-sia. Pola ini terus berulang tanpa ada titik terang penyelesaian.

  • Bagaimana Dampak Lingkungan yang Mengancam?

Kerusakan ekologis sudah di depan mata. Lahan rusak parah. Vegetasi hilang. Erosi tanah meningkat drastis. Risiko banjir bandang mengintai ketika musim hujan tiba.

Sumber air juga terancam. Penggunaan merkuri dan bahan kimia berbahaya mencemari aliran sungai. Masyarakat hilir merasakan dampaknya. Air keruh, tidak layak konsumsi. Kesehatan warga terancam dalam jangka panjang.

"Kami takut anak cucu tidak bisa menikmati lingkungan yang sehat. Keuntungan segelintir orang ini mengorbankan masa depan banyak orang," keluh salah satu tokoh masyarakat yang frustrasi melihat kondisi desanya.

Kerusakan ini jauh lebih besar dari keuntungan ekonomi sesaat. Pemulihan lingkungan butuh waktu puluhan tahun. Bahkan mungkin tidak bisa kembali seperti semula. Tapi para pelaku tidak peduli.

  • Mengapa Kepala Desa Memilih Bungkam?

Ketika dikonfirmasi melalui aplikasi WhatsApp, Norma tidak memberi tanggapan. Pesan sudah terbaca. Centang biru muncul. Namun balasan tidak ada sampai berita ini diturunkan.

Sikap diam ini menambah kecurigaan publik. Jika memang tidak terlibat, seharusnya Kades bisa menjelaskan. Transparansi adalah kunci. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Beberapa kalangan menilai keheningan ini sebagai pengakuan tidak langsung. "Orang yang tidak bersalah pasti akan membela diri. Kenapa malah diam?" tanya seorang aktivis lingkungan yang mengamati kasus ini.

Masyarakat kini menuntut klarifikasi resmi. Bukan hanya dari Kepala Desa, tetapi juga dari seluruh aparat pemerintahan desa. Keterlibatan siapa saja dalam praktik tambang ilegal ini harus diungkap tuntas.

Halaman:

Tags

Terkini