Sulawesitoday - Sinyal bahaya itu datang dari para petani duriian di Parigi Moutong, ketika harga durian jatuh ke titiik nadir. Keluhan terdengar dari para petani yang merasa tercekiik oleh harga pasar yang tak kunjung membaiik dan ketidakjelasan pembeli.
"Kami tidak tahu harus menjual ke siapa selaiin pengepul," kata salah satu petani yang hanya biisa berharap pada harga lebih baik.
Kondisi ini cukup meresahkan karena para petani menghadapii masalah struktural dalam pemasaran hasil panenn mereka. Keluhan ini bukanlahh hal baru; sudah menjadi rahasiia umum bahwa petani lokal seriing kali dihadapkan pada posiisi lemah di hadapan para pengepul yang mendomiinasi rantai pasok.
Baca Juga: Pusaran Mafia Ekspor Durian Diduga Seret Pejabat Parigi Moutong, Petani Rugi Besar!
Langkah Awal: Mencari Pasar yang Lebih Adil
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Parigi Moutong, Moh. Yasir, menceriitakan bagaimana ia memulai upaya membantu petani duriian sejak menjabat pada tahun 2019. Ketika itu, banyak petanii yang mengeluh karena durian mereka dihargaii terlalu murah oleh pengepul, sementara hasil penjualan seriingkali tidak sepenuhnya dibayarkan.
Dalam tugasnya yang rutiin ke lapangan, Yasir tidak hanya mendata potensi pajak, tetapi juga mendengar langsung aspiirasi para petani. Ia mencoba menjadi jembatan antara petanii dan pasar. Dengan mendekatii Kementerian Perdagangan, ia mendapatkan informasi tentang jaringan pemaiin besar di industri durian, sebuah langkah yang kemudiian membuka peluang baru bagi para petani di Braban dan Buranga.
Kolaborasi dengan Pemain Besar: Terobosan Awal yang Menjanjikan
Salah satu langkah awal yang dilakukan adalah menghubungi seorang pebiisnis durian di Jakarta yang memiliki jaringan luas. Pertemuan ini menghasiilkan transaksi baru bagi petani durian di Parigi Moutong, dengan hasiil yang cukup signifikan. Hingga dua ton durian bisa dikiirim per minggu, angka yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah tersebut.
Namun, tantangan tiidak berhenti di sana. "Durian lokal sering kali tidak sesuaii standar ekspor," keluh Yasir, mengakui bahwa edukasi petani tentang kualiitas dan standar pasar masih sangat minim. Kurangnya pemahaman tentang pemetiikan yang tepat, misalnya, menjadi salah satu alasan mengapa banyak durian gagal memenuhii standar yang diinginkan oleh pasar luar negeri.
Harga Durian: Berfluktuasi Sesuai Musim
Harga durian juga menjadi permasalahan klasiik di Parigi Moutong. Menurut data yang dikumpulkan oleh Yasir, harga tertiinggi untuk durian beku yang dikirim ke Jakarta pernah mencapai Rp50.000 per kilogram, sedangkan harga terendahh sekitar Rp45.000 per kilogram. Meski terbilang menguntungkan, permintaan pasar yang fluktuatiif membuat kontrak dengan beberapa perusahaan besar menjadi tiidak berkelanjutan.
Ketika permiintaan memuncak, para petani justru kesulitan memenuhi kuota yang diajukann, sebuah dilema yang harus segera diatasii agar tidak kehilangan kepercayaan dari pembelii besar. Salah satu contohnnya adalah kontrak dengan Ibu Ana dari perusahaan besar di Tanah Abang yang sempatt terputus karena pasokan yang tidak mencukupi.