• Jumat, 3 Juli 2026

Nebula Boomerang: tempat paling dingin di alam semesta dengan suhu minus 272 derajat celsius

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Senin, 25 Desember 2023 | 05:57 WIB
Nebula Boomerang: tempat paling dingin di alam semesta dengan suhu minus 272 derajat celsius  Dalam tengah hawa panas yang melanda, ada satu tempat di alam semesta yang mungkin akan membuat kita bersyukur berada di Bumi. Nebula Boomerang, sebuah awan gas dan debu yang terletak sekitar 5.000 tahun cahaya dari Bumi di rasi Centaurus, dijuluki sebagai tempat paling dingin di alam semesta dengan suhu mencapai minus 272,15 derajat Celsius.
Nebula Boomerang: tempat paling dingin di alam semesta dengan suhu minus 272 derajat celsius Dalam tengah hawa panas yang melanda, ada satu tempat di alam semesta yang mungkin akan membuat kita bersyukur berada di Bumi. Nebula Boomerang, sebuah awan gas dan debu yang terletak sekitar 5.000 tahun cahaya dari Bumi di rasi Centaurus, dijuluki sebagai tempat paling dingin di alam semesta dengan suhu mencapai minus 272,15 derajat Celsius.

Nebula Boomerang: tempat paling dingin di alam semesta dengan suhu minus 272 derajat celsius

Dalam tengah hawa panas yang melanda, ada satu tempat di alam semesta yang mungkin akan membuat kita bersyukur berada di Bumi. Nebula Boomerang, sebuah awan gas dan debu yang terletak sekitar 5.000 tahun cahaya dari Bumi di rasi Centaurus, dijuluki sebagai tempat paling dingin di alam semesta dengan suhu mencapai minus 272,15 derajat Celsius.

Dilansir dari Popular Mechanism pada Jumat 22 Desember 2023, suhu luar angkasa sendiri memang dingin, tapi dinginnya Nebula Boomerang tidak dapat dibayangkan. Suhu ruang hampa dapat diukur berkat medan radiasi fosil yang dikenal sebagai latar belakang gelombang mikro kosmik (CMB). CMB terdiri dari foton yang merupakan sisa dari peristiwa sesaat setelah Big Bang, menjadikan ruang tidak pernah benar-benar kosong.

Nebula Boomerang, dengan suhu minus 272,15 derajat Celsius, bahkan lebih dingin dari suhu CMB yang mencapai minus 270 derajat Celsius. Menurut peneliti California Institute of Technology (Caltech) dan ilmuwan Jet Propulsion NASA, Raghvendra Sahai, suhu terendah di Nebula Boomerang hanya beberapa persepuluh derajat di atas nol mutlak, yang merupakan suhu terendah yang mungkin di mana semua gerakan atom akan berhenti.

Namun, keistimewaan Nebula Boomerang tidak hanya terletak pada suhu extremenya. Nebula ini juga menjadi satu-satunya objek di alam semesta yang dikenal berada pada suhu di bawah suhu CMB. Lebih dari itu, Nebula Boomerang adalah contoh nyata dari interaksi biner antara bintang yang disebut Common Envelope Evolution.

"Sementara Nebula Boomerang menarik perhatian kita dengan suhu superdinginnya, ini juga merupakan contoh buku teks dari jenis interaksi biner antara bintang yang disebut Common Envelope Evolution," ujar Sahai.

Common Envelope Evolution merupakan fenomena yang menjadi fokus astronomi abad ke-21 karena diyakini sebagai penyebab berbagai fenomena ledakan di bintang, seperti supernova dan emisi gelombang gravitasi. Studi terhadap Nebula Boomerang memberikan kesempatan langka untuk mengamati dan memahami fenomena ini secara lebih mendalam.

Penamaan "Nebula Boomerang" sendiri berasal dari tahun 1980, ketika dua astronom, Keith Taylor dan Mike Scarrott, mengamati dengan menggunakan Teleskop Anglo-Australia di Observatorium Siding Spring di New South Wales, Australia. Kemudian, penelitian lebih lanjut dilakukan pada tahun 1998 menggunakan Teleskop Luar Angkasa Hubble dan Teleskop Submillimeter Swedish-ESO (SEST) pada 1995 untuk mengkonfirmasi Nebula Boomerang sebagai tempat paling dingin di alam semesta.

Dengan keunikan suhu ekstrem dan signifikansinya dalam memahami interaksi bintang, Nebula Boomerang terus menjadi objek penelitian yang menarik dalam eksplorasi luar angkasa.

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini

Perahu Penjaga Dapur di Laut Lebo

Sabtu, 16 Mei 2026 | 18:05 WIB

44 Negara Tanpa Laut, Bagaimana Mereka Bertahan?

Selasa, 28 Januari 2025 | 20:35 WIB