• Selasa, 21 Juli 2026

Dari Vunja hingga Lalampa, Parigi Moutong Buktikan Keberagaman dalam Karnaval Budaya Sulteng

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Kamis, 17 April 2025 | 12:39 WIB
Parigi Moutong gemilang di HUT Sulteng: tari Vunja, busana durian-lalampa, dan simbol toleransi mengalun harmonis.
Parigi Moutong gemilang di HUT Sulteng: tari Vunja, busana durian-lalampa, dan simbol toleransi mengalun harmonis.

Sulawesitoday - Suasana Lapangan Vatulemo bergetar meriah kala Deretan Sanggar Achaswara dan LPSB. Kailinesia melenggang menampilkan jitter alun musik Kakula nu Ada.

Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ambil bagian dalam puncak perayaan HUT ke‑61 Provinsi Sulawesi Tengah dengan menampilkan Tomini Fashion Carnival yang menyuguhkan durian raksasa dan lalampa tradisional sebagai ikon kuliner nusantara.

Ninong Pandake, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Parigi Moutong, mengungkapkan, “Tahun ini kami mengangkat tema ‘Harmoni Parigi Moutong dalam Bingkai Keberagaman’.

Lebih dari sekadar parade, ini adalah wujud syukur atas keberagaman budaya Kaili dan rasa terima kasih pada bumi Songu Lara.” 

Parade Karnaval Budaya dibuka dengan gerak tari Vunja, ritual kuno sebagai simbol kesuburan dan ketentraman. Penari berselendang ulap-ulap khas Kaili, memadu gerak gemulai menembus tepuk tangan penonton.

Kostum berlapis tenunan lokal menyatu padu dengan musik tradisional, menciptakan harmoni yang mengalun syahdu di tengah kerlip lampu panggung.

Tomini Fashion Carnival mengajak 30 talent memadu busana terinspirasi kuliner daerah—dari motif durian hingga corak lalampa.

“Kami ingin memanjakan selera sekaligus mempromosikan kearifan lokal,” ujar Pandake.

Sementara itu, momen toleransi beragama disimbolkan lewat genggaman hangat antar pemuka lintas keyakinan, menegaskan bahwa keberagaman tak hanya dipandang, tapi juga dirasakan.

Sebanyak 23 komunitas lintas etnis, berbagai organisasi perangkat daerah, hingga perwakilan bank daerah turut meramaikan karnaval.

Meski anggaran dipangkas demi efisiensi, karnaval tetap bergelora, membuktikan bahwa semangat gotong‑royong lebih kuat daripada keterbatasan dana.

Gubernur Sulawesi Tengah, H. Anwar Hafid, memberikan apresiasi atas kerja keras semua pihak.

Baca Juga: Banjir di Donggala, Gubernur Sulteng Tuntut Evaluasi Menyeluruh Pengelolaan Tambang

“Ini bukti komitmen kita melestarikan seni dan budaya. Ke depannya, saya berharap karnaval ini naik kelas menjadi ajang nasional, menggandeng lebih banyak pelaku budaya dari seluruh Nusantara,” ujarnya.

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini