Sulawesitoday - Apakah pendidikan inklusif di Parigi Moutong (Parimo) mulai serius menata diri di jenjang SMP? Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parimo kini bergerak sistematis, menjemput masa depan yang lebih ramah bagi setiap siswa, tak terkecuali anak berkebutuhan khusus (ABK).
Langkah awal ini bukan sekadar gelombang kecil di samudra pendidikan. Disdikbud Parimo, pada Senin, 21 Juli 2025 lalu, telah menggelar agenda penting di Parigi. Dua pilar utama ditancapkan: pendataan guru pendamping khusus (GPK) dan penguatan pemahaman kepala sekolah.
Ini adalah kelanjutan program yang sebelumnya berhasil di jenjang sekolah dasar, kini menargetkan seluruh kepala sekolah SMP. Tujuannya satu, agar satuan pendidikan mereka siap menjadi rumah kedua yang nyaman untuk ABK.
Farid Ali Buraera, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), menegaskan, penataan layanan inklusif ini bukan lagi wacana atau sekadar sosialisasi belaka.
"Ini masuk pada tahap implementasi sisttematis," katanya lugas, seolah memecah keraguan. Ia menambahkan, "Pemahaman kepala sekolah sangat penting, karena mereka adalah pengambil keputusan pertama di sekolah. Siswa berkebutuhan khusus harus mendapatkan hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak dan bermartabat." Kalimat itu bagai pilar yang menopang asa.
Selama ini, Farid tak menampik, data layanan inklusif disekolah-sekolah masih serupa puzzle yang belum lengkap. Akurasinya perlu perhatian khusus. Untuk itu, dua langkah konkret segera digulirkan. Pertama, pendataan GPK di setiap sekolah.
Data ini akan menjadi kompas untuk penugasan, pelatihan, serta penguatan kapasitass yang tepat sasaran. Kedua, penguatan pemahaman kepala sekolah terkait regulasi dan praktik pendidikan inklusif, selaras dengan kebijakan nasional. Ini pondasi kokoh untuk bangunan yang inklusif.
"Program ini akan terus berlanjut. Kami juga akan melakukan pendampingan teknis secara langsung kepada sekolah-sekolah inklusif, termasuk pelatihan kapasitas guru yang terdata sebagai calon pendamping khusus," ungkap Farid, dengan nada penuh keyakinan.
Melalui upaya ini, Disdikbud Parimo berharap sekolah-sekolah di jenjang SMP tak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tapi juga laboratorium kehidupan yang inklusif. Lingkungan belajar yang mendukung perkembangan semua siswa, tanpa membedakan.
"Inklusif bukan berarti memisahkan, tapi menyatukan dalam perbedaan. Semua anak berhak mendapat ruang untuk tumbuh dan beljar," pungkasnya. Sebuah pesan yang sederhana namun mengandung makna mendalam, menggema di setiap sudut ruang kelas yang ingin mereka bangun.
Baca Juga: Disdikbud Parimo Intervensi Bangun SDN Kuala Bugis Rusak Via DAU 2026
Artikel Terkait
Operasi Senyap di Palu Barat dan Tavanjuka, Dua Terduga Pengedar Narkotika Ditangkap
Tragedi KM Barcelona 5, Perbedaan Jumlah Korban dan Manifest Jadi Sorotan
Bupati Parigi Moutong: Ri Wanu, Mo Wanu, Nu Pembangunan Banua Nu Terus Maju
Naapa Vatu Mopadampaka Sulawesi Tengah Nu Kokoh? De’a Cuma Infrastruktur, Tapi Nilai Adat Kaili
Disdikbud Parimo Intervensi Bangun SDN Kuala Bugis Rusak Via DAU 2026