pemerintah

846 Ton Beras Mengalir ke Parigi Moutong, Langkah Strategis Stabilkan Harga Pangan di Tengah Gejolak Ekonomi

Minggu, 16 November 2025 | 19:33 WIB
846 Ton Beras Mengalir ke Parigi Moutong: Langkah Strategis Stabilkan Harga Pangan di Tengah Gejolak Ekonomi

Moment ketiga sama pentingnya. Abdul Rauf dilantik sebagai Kepala Desa Pengganti Antar Waktu Desa Palasa Tengah. Posisi ini tidak main-main. Kepala desa adalah ujung tombak pembangunan. Mereka yang memahami kebutuhan riil warga.

Bupati memberikan arahan khusus. Integritas harus dijunjung tinggi. Pelayanan prima wajib diutamakan. Tanggung jawab besar menanti. "Pembangunan tidak bisa berjalan sendiri," pesan Bupati kepada Abdul Rauf. "Diperlukan kerja sama dan komitmen semua pihak agar cita-cita mewujudkan Parigi Moutong yang maju, mandiri, dan sejahtera dapat tercapai."

Abdul Rauf mengangguk mantap. Pengalaman sebagai perangkat desa menjadi bekalnya. Ia paham medan. Ia kenal karakter warganya. Tantangan berat memang. Namun bukan berarti mustahil.

Pelantikan di tengah acara distribusi bantuan pangan ini bukan kebetulan. Ini sinyal. Pemerintah daerah ingin memastikan semua lini bergerak sinkron. Dari pusat hingga desa. Dari infrastruktur hingga kebutuhan dasar. Semuanya harus terhubung.

Sinergi Pemda-Desa: Formula Ampuh atau Retorika Belaka?

Skeptisisme wajar muncul. Berapa kali kita mendengar janji pembangunan? Berapa kali program diluncurkan dengan gembar-gembor, lalu menghilang tanpa jejak? Pertanyaan ini menggantung di benak sebagian warga.

Namun data berkata lain. Parigi Moutong mencatat progres signifikan dalam dua tahun terakhir. Angka kemiskinan turun 2,3 persen. Indeks pembangunan manusia naik. Infrastruktur jalan membaik. Bukan angka fantasi. Ini tercatat di BPS Sulawesi Tengah.

Bupati Erwin Burase menekankan pentingnya sinergi. "Kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintahan desa dalam mewujudkan pembangunan yang merata, berkeadilan, serta berorientasi pada kesejahteraan masyarakat," katanya. Bukan sekadar lip service. Bukti sudah mulai terlihat.

Rest area yang diresmikan adalah hasil gotong royong. Dana APBD berpadu dengan swadaya masyarakat. Kepala desa berperan aktif. Mereka tidak hanya menunggu instruksi. Mereka berinisiatif. Mereka menggerakkan warga.

Distribusi bantuan pangan pun melibatkan aparatur desa. Mereka yang verifikasi data. Mereka yang memastikan tepat sasaran. Transparansi dijaga ketat. Setiap kilogram beras tercatat. Setiap liter minyak goreng terdata.

Apa Dampak Jangka Panjang Program Ini?

Pertanyaan krusial. Bantuan pangan bersifat temporer. Bagaimana setelah stok habis? Akankah harga kembali melonjak? Atau ada skema berkelanjutan?

Pemerintah daerah mengklaim punya roadmap. Bantuan pangan adalah fase darurat. Paralel dengan itu, program pemberdayaan ekonomi terus berjalan. Pelatihan keterampilan digencarkan. Akses permodalan dipermudah. Pasar produk lokal dibuka.

Rest Area Ogomolos menjadi pilot project. Jika berhasil, model serupa akan direplikasi. Kecamatan lain sudah antre. Mereka ingin fasilitas serupa. Mereka ingin ekonomi lokal mereka terdongkrak.

Abdul Rauf dan kepala desa lainnya diharapkan menjadi agen perubahan. Mereka diberi otoritas lebih besar. Dana desa ditambah. Pelatihan manajemen diberikan secara berkala.

Halaman:

Tags

Terkini