Sulawesitoday - Deru traktor membelah sawah. Bukan untuk mengeruk emas. Melainkan merayakan panen raya. Kamis malam (12/11), ratusan petani berkumpul di Dusun III, Desa Tada. Mereka merayakan kemenangan kecil. Kemenangan atas tekanan tambang ilegal.
Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase hadir. Bukan sekadar seremonial biasa. Kehadirannya membawa pesan tegas: pemerintah daerah berpihak pada rakyat. Menolak aktivitas tambang ilegal. Prioritas adalah kelestarian lingkungan.
Acara bertajuk "Berani Melaju di Sawah, Wujud Syukur Panen Raya Tanpa Ancaman Tambang Ilegal" digelar di Kecamatan Tinombo Selatan. Hadir pula Wakil Bupati H. Abdul Sahid. Turut serta pejabat pimpinan tinggi pratama. Unsur Forkopimcam Tinombo Selatan lengkap. Para kepala desa, penyuluh pertanian, kelompok tani, hingga tokoh agama memadati lokasi.
-
Mengapa Sawah Menjadi Simbol Perlawanan?
Pertanyaan ini terjawab dalam sambutan Bupati Erwin. Apresiasi mengalir kepada petani. Mereka memilih jalan sulit. Mempertahankan sawah dari godaan tambang ilegal yang menjanjikan keuntungan instan.
"Kegiatan ini simbol keteguhan," ujar Erwin. Suaranya lantang memecah malam. "Masyarakat, khususnya petani, menjaga sumber kehidupan mereka. Sawah, tanah, dan air."
Dia melanjutkan dengan tegas. "Tanpa sawah yang subur, tidak ada ketahanan pangan. Tanpa ketahanan pangan, kedaulatan bangsa terancam."
Pernyataan itu bukan retorika kosong. Data menunjukkan fenomena mengkhawatirkan. Tambang ilegal telah merusak ribuan hektar lahan produktif di berbagai daerah. Parigi Moutong tidak ingin bernasib sama.
-
Apakah Pembangunan Harus Mengorbankan Alam?
Bupati membantah keras narasi tersebut. Pembangunan dan kemajuan daerah bisa berjalan. Tanpa merusak alam. Semangat "Berani Melaju di Sawah" menjadi manifesto baru.
"Kemakmuran dapat diraih dengan bijak," tegasnya. "Menjaga bumi sambil mengolahnya secara berkelanjutan."
Erwin Burase menyebut tambang ilegal sebagai ancaman nyata. Bukan hanya terhadap lingkungan. Tetapi juga ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. "Pemerintah Daerah akan berdiri bersama rakyat," katanya mantap. "Menolak segala bentuk aktivitas yang merusak ruang hidup."
Komitmen ini bukan pertama kali. Sepanjang 2024, pemerintah kabupaten telah menolak beberapa proposal tambang. Meskipun menjanjikan pendapatan daerah besar. Pilihan jatuh pada pertanian berkelanjutan.
-
Apa Langkah Konkret Pemerintah Daerah?
Bupati mengajak kolaborasi menyeluruh. Dari pemerintah desa hingga kelompok tani. Semua elemen masyarakat harus bergandengan tangan. Menjaga lahan pertanian dari berbagai ancaman.
"Mari kita melangkah bersama," ajaknya. Nada suara penuh optimisme. "Berani melaju di sawah. Berani menjaga bumi. Berani menolak kerusakan."
Dia menekankan semangat gotong royong. Sebagai kunci mewujudkan Parigi Moutong yang maju. Mandiri dan berkelanjutan. Bukan sekadar slogan kampanye. Melainkan komitmen jangka panjang.
Artikel Terkait
Hari Ketiga Longsor Majenang: 12 Jiwa Masih Terperangkap Lumpur Cilacap
Apresiasi Nasional untuk Hestiwati Nanga: Dedikasi Tanpa Henti untuk Pendidikan Anak Usia Dini Parigi Moutong
Wabup Abdul Sahid Tegas di Konsultasi KLHS, Era Ego Sektoral Penataan Ruang Parigi Moutong Harus Berakhir
Sistem Kerja dan Pakaian Dinas ASN Parimo Diatur Ketat, Ini Langkah Transformasi Birokrasi 2025
Yanuar Rizky Bedah Kemiripan Purbaya dan Sri Mulyani, Popularitas Awal Bisa Jadi Bumerang Jika Salah Kelola