• Selasa, 21 Juli 2026

Yanuar Rizky Bedah Kemiripan Purbaya dan Sri Mulyani, Popularitas Awal Bisa Jadi Bumerang Jika Salah Kelola

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Minggu, 16 November 2025 | 12:23 WIB
Pengamat keuangan ingatkan Purbaya belajar dari Sri Mulyani 2005. Popularitas awal bisa jadi bumerang jika tak jaga kelas menengah.
Pengamat keuangan ingatkan Purbaya belajar dari Sri Mulyani 2005. Popularitas awal bisa jadi bumerang jika tak jaga kelas menengah.

Sulawesitoday - Popularitas bisa jadi. Belati bermata dua. Purbaya Yudhi Sadewa harus hati-hati. Demikian peringatan keras pengamat keuangan.

Yanuar Rizky melontarkan peringatan tajam. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tengah berada di persimpangan. Momentum yang sama pernah dialami Sri Mulyani dua dekade silam. Popularitas awal yang meroket. Dukungan publik mengalir deras. Namun berakhir dengan kekecewaan masif dari kelas menengah yang dulunya menjadi basis pendukung tersolidnya.

Dalam podcast Forum Keadilan TV yang tayang Minggu, 16 November 2025, Yanuar membedah paralel mencengangkan. Pola kemunculan Purbaya nyaris identik dengan Sri Mulyani tahun 2005. Keduanya hadir lewat reshuffle. Keduanya disambut tepuk tangan. Keduanya dianggap sosok pruden yang berani bicara jujur kepada presiden.

  • Apakah Pola Sri Mulyani Terulang pada Purbaya?

Pertanyaan ini mengemuka keras. Yanuar melihat benang merah terang. "Bu Sri Mulyani ketika pertama kali jadi Menteri Keuangan itu dalam posisi reshuffle menggantikan Pak Yusuf Anwar, apa yang dilakukan nggak ada beda sama Pak Purbaya, orang juga tepuk tangan semua," ungkap Yanuar dengan nada mengingatkan.

Sri Mulyani bergabung dalam kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2005. Saat itu publik muak dengan demokrasi transaksional. Kehadiran Sri Mulyani dianggap angin segar. Teknokrat bersih tanpa kepentingan politik. Sosok yang mampu menyampaikan kebenaran tanpa kompromi.

Namun perjalanan panjang mengubah segalanya. Kebijakan ekonomi yang diambil menciptakan jarak dengan rakyat. Kelas menengah yang dulu mendukung kini berbalik arah. "Dulu Sri Mulyani pun orang yang dianggap pruden karena dianggap sebagai orang yang bisa mengatakan hal yang benar kepada Presiden, karena sekarang terlalu lama dan sebagainya, orang lalu berbalik kan, kondisi ekonominya juga," terang Yanuar.

  • Mengapa Kelas Menengah Begitu Krusial?

Kelas menengah adalah penentu. Mereka tulang punggung ekonomi. Mereka pembentuk opini publik. Kehilangan dukungan mereka berarti kehilangan legitimasi sosial.

Yanuar menekankan poin krusial ini. "Kalau ketika awal Anda (Purbaya) didukung secara politik, Bu Sri Mulyani juga dulu begitu," katanya. Dukungan awal memang menggairahkan. Namun tanpa stabilitas berkelanjutan, dukungan itu rapuh. "Tapi kalau berdasarkan waktu tidak bisa membangun stabilitas berkelanjutan dari kelas menengah, Bu Sri Mulyani yang dulu sangat didukung oleh kelas menengah, kelas menengah yang sama juga yang membenci dia," papar Yanuar dengan lugas.

Histori membuktikan hal ini. Sri Mulyani yang sempat menjadi ikon reformasi birokrasi kini menerima kritik bertubi dari segmen yang sama. Kebijakan pajak yang dinilai memberatkan. Program ekonomi yang kurang menyentuh akar masalah. Komunikasi yang terkesan elitis. Semua ini mengikis kepercayaan publik secara perlahan tapi pasti.

Purbaya kini berada di titik yang sama. Popularitasnya meroket dalam hitungan minggu. Media sosial ramai membicarakannya. Publik menilai gebrakannya segar. Namun pertanyaan besarnya: apakah ini hanya bulan madu yang akan berakhir dengan kekecewaan serupa?

Bagaimana Mewujudkan Zaken Kabinet yang Sesungguhnya?

Yanuar mengajukan tesis menarik. Publik sendiri yang mengacaukan konsep zaken kabinet. Kabinet yang seharusnya diisi ahli profesional justru terkontaminasi narasi politik. "Saya ingin mengatakan kepada kita semua masyarakat, kita tempatkan Menteri Keuangan adalah Menteri Keuangan. Jangan dibawa-bawa tentang Satrio Piningit," tegas Yanuar.

Fenomena Satrio Piningit menjadi jebakan berbahaya. Sosok dalam ramalan Prabu Jayabaya yang dipercaya membawa Indonesia ke zaman keemasan. Setiap figur populer langsung dikait-kaitkan. Bahkan sebelum bekerja maksimal, sudah diwacanakan untuk posisi lebih tinggi. "Belum apa-apa sudah (diajukan) jadi wapres. Jadi, akhirnya kita malah tidak punya yang namanya zaken kabinet karena kita sendiri yang mendorong setiap orang itu begitu populer sedikit, dianggap Satrio Piningit," jelas Yanuar.

Partai Amanat Nasional sempat melirik Purbaya. Wacana menjadikannya kader partai mengemuka. Namun Purbaya tegas menolak. Pada 29 Oktober 2025 di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, ia menyatakan sikap jelas. "Saya nggak tertarik politik, saya mau kerja aja," ujar Purbaya kepada wartawan.

Pernyataan ini krusial. Namun komitmen verbal saja tidak cukup. Tekanan politik akan datang berlapis. Godaan kekuasaan akan menghampiri berulang. Yanuar mengingatkan publik untuk menjaga jarak. "Kalau kita setuju dia (Purbaya) orang yang bekerja, bisa bekerja, mari kita dudukkan sebagai zaken kabinet, jangan dulu kita bawa-bawa ke politik," imbuhnya.

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini