Di tengah lomba, personel Sat Pol Air berkeliling. Mereka mengingatkan peserta tentang bahaya penangkapan ikan ilegal. Tentang pentingnya menjaga ekosistem laut. Tentang bagaimana satu tindakan destruktif bisa merusak masa depan generasi mendatang. Edukasi ini penting. Sebab tidak sedikit nelayan yang masih menggunakan cara-cara merusak demi hasil maksimal.
Ketika Kompetisi Bertemu Konservasi
Inilah yang menarik dari lomba mancing FTT 2025. Tidak sekadar ajang adu tangkapan. Lebih dari itu, ini momentum menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga laut. Teluk Tomini adalah aset berharga. Kekayaan lautnya tidak boleh dieksploitasi sembarangan.
Melalui lomba seperti ini, panitia mencoba menanamkan kesadaran. Bahwa memancing bukan soal mengeruk habis isi laut. Tapi bagaimana memanfaatkan sumber daya dengan bijak. Aturan berat minimal ikan, pengawalan Sat Pol Air, hingga sosialisasi anti-illegal fishing, semua adalah bagian dari strategi besar.
Abdul Sahid tampaknya paham betul. Pesan sportivitasnya bukan cuma retorika. Itu adalah filosofi yang harus ditanamkan. Bahwa kemenangan sejati bukan diukur dari berapa banyak ikan yang tertangkap. Tapi dari seberapa besar kita menghormati alam dan sesama.
Kayubura sebagai Saksi Bisu
Pantai Kayubura pagi itu ramai. Perahu-perahu berjejer rapi. Para angler sibuk menyiapkan peralatan. Ada yang mengecek kail. Ada yang memeriksa umpan. Sebagian lain sudah meluncur ke laut, mengejar spot terbaik.
Di kejauhan, matahari mulai merangkak naik. Cahayanya memantul di permukaan laut yang tenang. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah. Suasana begitu damai, kontras dengan ketegangan kompetisi yang akan segera dimulai.
Kayubura menjadi saksi. Saksi dari sebuah perhelatan yang lebih dari sekadar lomba. Ini adalah perayaan atas kekayaan laut Sulawesi Tengah. Perayaan atas semangat sportivitas. Perayaan atas kesadaran menjaga lingkungan.
Baca Juga: Festival Teluk Tomini 2025 Jadi Magnet Wisata, Parigi Moutong Perkuat Ekonomi Kreatif Lokal