pemerintah

Bupati Parigi Moutong Buka Muscab VII IBI, Tekankan Pelayanan Berbasis Bukti

Selasa, 31 Maret 2026 | 17:20 WIB
Bupati Parigi Moutong membuka Muscab VII IBI, mendorong bidan terapkan pelayanan berbasis bukti untuk tekan AKI, AKB, dan stunting di daerah.

Sulawesitoday - Ada yang berubah di Aula Bappelitbangda Parigi Moutong, Selasa pagi itu. Kursi-kursi terisi penuh. Seragam putih berjejer rapi. Para bidan dari seluruh penjuru kabupaten — dari ranting terjauh sekalipun — hadir. Bukan sekadar datang. Tapi hadir dengan satu tekad.

Musyawarah Cabang Ke-VII Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Parigi Moutong resmi dibuka pada Selasa, 31 Maret 2026. Bupati Parigi Moutong hadir langsung. Membuka sendiri. Itu bukan hal kecil.

Tema yang Tidak Sekadar Slogan

Muscab ke-VII ini mengusung tema: "Satukan Langkah dalam Transformasi Kesehatan untuk Penguatan Pelayanan Kebidanan Berkesinambungan Berbasis Bukti."

Panjang memang. Tapi justru di situlah kekuatannya. Setiap kata dipilih bukan untuk gagah-gagahan. Transformasi kesehatan. Berkesinambungan. Berbasis bukti. Tiga frasa yang kalau dihayati sungguh-sungguh, bisa mengubah cara kerja seorang bidan dari hari ke hari.

Dalam sambutannya, Bupati menyambut baik penyelenggaraan forum ini. Ia tidak hanya mengapresiasi secara basa-basi. Ia masuk ke substansi. Tema ini, katanya, sangat relevan dengan arah kebijakan pembangunan kesehatan — baik nasional maupun daerah — yang menekankan pentingnya sistem kesehatan yang lebih adaptif, profesional, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Bidan Bukan Pelengkap. Bidan Adalah Inti.

Sering kali bidan disebut hanya sebagai "tenaga kesehatan di lapangan." Seolah posisi kedua. Seolah pelengkap dokter. Padahal tidak begitu.

Bupati menegaskan: peran bidan sangatlah strategis. Khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Bidan adalah garda terdepan dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Juga dalam pencegahan stunting — isu yang kini menjadi perhatian serius pemerintah dari pusat hingga desa.

Angka kematian ibu dan bayi bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka itu ada keluarga yang berduka. Ada ibu yang tidak sempat melihat anaknya tumbuh. Ada bayi yang tidak sempat mengenal ibunya. Bidan-lah yang berada di titik paling kritis itu.

Maka ketika seorang bidan menjalankan tugasnya dengan ilmu yang benar, dengan standar profesi yang dijaga, dengan data dan bukti sebagai landasan — itu bukan hanya soal karier. Itu soal nyawa.

Evidence-Based: Ilmu, Bukan Kebiasaan

Ada satu kalimat dari sambutan Bupati yang layak direnungkan lebih lama:

"Melalui pendekatan pelayanan kebidanan berbasis bukti (evidence-based practice), diharapkan setiap tindakan dan pelayanan yang diberikan benar-benar didasarkan pada ilmu pengetahuan, standar profesi, dan kebutuhan masyarakat. Hal ini penting untuk meningkatkan mutu layanan serta kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan."

Halaman:

Tags

Terkini