Sayutin setuju. Ia menyadari bahwa negara tidak bisa bekerja sendirian. Harus ada sinergi antara hukum positif dan aturan yang sudah hidup di masyarakat sejak dulu.
Daftar keinginan itu panjang. Sangat panjang. Dari kursi Madrasah, rehabilitasi sekolah, hingga turnamen Sepak Takraw. Apakah semuanya bisa terwujud?
Di sinilah letak titik baliknya. Sayutin tidak mengumbar janji kosong. Ia membuka fakta: sudah ada 6 program yang berhasil menembus SIPD (Sistem Informasi Pemerintahan Daerah). Sisanya? Masih berjuang di RKPD.
Ia memperlihatkan bahwa birokrasi adalah rimba yang harus dijinakkan dengan ketelitian, bukan sekadar teriakan di meja sidang.
"Seluruh aspirasi ini sudah kami rangkum sebagai catatan prioritas," tegas Sayutin. Suaranya mantap, membelah kesunyian malam di Donggulu.
Ia bicara soal program "Berani Sehat" dan "Berani Cerdas". Ia bicara soal UHC-JKN agar warga tidak takut jatuh sakit karena biaya. Sebagai pimpinan DPRD, ia menjamin satu hal: pengawalan.
Reses telah usai. Satu per satu warga meninggalkan aula, kembali ke rumah masing-masing melewati jalanan yang mereka harap segera teraspal.
Politik memang bukan sulap. Tak ada tongkat ajaib yang bisa mengubah bibit menjadi pohon dalam semalam.
Namun, malam itu di Donggulu, setidaknya warga tahu satu hal: suara mereka tidak hilang ditelan malam. Ia telah menjelma menjadi catatan di buku saku seorang wakil rakyat. Dan bagi orang kecil, merasa didengarkan adalah awal dari sebuah harapan.