• Selasa, 21 Juli 2026

Reses Malam di Donggulu, Harapan di Pundak Sayutin

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Sabtu, 25 April 2026 | 13:50 WIB
Sayutin Budianto serap aspirasi warga Kasimbar & Toribulu. Dari bibit durian hingga jalan Desa Pintu, semua dikawal masuk sistem SIPD.
Sayutin Budianto serap aspirasi warga Kasimbar & Toribulu. Dari bibit durian hingga jalan Desa Pintu, semua dikawal masuk sistem SIPD.

Sulawesitoday - Lampu di Aula Kantor Desa Donggulu masih menyala terang. Di luar, udara Kecamatan Kasimbar mulai mendingin. Tapi di dalam ruangan, suasana justru menghangat.

Jumat malam itu (24/04), kursi-kursi penuh. Ada kepala desa, tokoh agama, hingga pemuda yang masih mengenakan jaket motor. Mereka tidak sedang menonton pertunjukan. Mereka sedang menunggu satu hal: didengarkan.

Di depan sana, Sayutin Budianto duduk dengan tenang. Wakil Ketua I DPRD Parigi Moutong itu bukan orang baru. Namun malam itu, tatapannya seperti sedang mencatat setiap kerutan di dahi para petani yang hadir.

Politik sering kali dianggap sebagai urusan gedung tinggi di pusat kota. Namun, bagi masyarakat Kasimbar dan Toribulu, politik adalah tentang bibit cokelat yang gagal berbuah atau jalanan di Desa Pintu yang tak kunjung mulus.

Baca Juga: Benalu Kompetensi di Lingkaran Kekuasaan

Inilah esensi reses. Sebuah jembatan antara aturan yang tertulis di atas kertas dan debu yang menempel di kaki warga. Sayutin, politisi NasDem itu, sedang mencoba menyambungkan keduanya. Bukan sekadar formalitas, tapi sebuah upaya mencari makna di balik angka-angka anggaran.

"Bagaimana dengan bibit durian kami?" tanya seorang warga.

Sayutin langsung merespons. Dia bicara soal ketahanan pangan. Bukan teori muluk-muluk. Dia bicara soal bantuan bibit durian unggul dan cokelat varietas Ron 45. Juga soal pupuk bersubsidi yang sering kali "hilang" saat musim tanam tiba.

Lalu, ada lagi soal Alsintan. Alat dan mesin pertanian. Bagi petani, ini bukan sekadar alat. Ini adalah cara mereka menyambung nyawa agar hasil bumi tidak kalah oleh zaman.

Namun, masalah tak berhenti di ladang.

Warga Desa Pintu angkat bicara. Mereka mengeluhkan pengaspalan jalan yang terasa pilih kasih. Belum lagi soal air bersih. Debit air menurun, sementara tenggorokan dan ladang tetap butuh minum.

Sayutin mencatat. Sesekali ia mengangguk. Ia tahu, di balik usulan rabat beton atau rehabilitasi Pustu, ada hak masyarakat untuk hidup lebih layak.

Ada satu momen yang membuat suasana hening. Saat isu narkoba mencuat.

Warga gelisah. Mereka tidak ingin anak muda mereka hancur. Usulannya menarik: perkuat penanganan dengan hukum adat. Sebuah kearifan lokal untuk membentengi moral.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini