Sulawesitoday - Bayangkan menghabiskan dua dekade terakhir tidur di samping cinta sejatimu—yang sudah tiada. Itulah yang dilakukan Le Van, seorang pria asal Vietnam yang kisahnya menggugah hati dan, tak bisa disangkal, juga menimbulkan rasa ngeri bagi sebagian orang. Tapi, di balik tindakan yang tampaknya aneh itu, ada kisah cinta yang benar-benar memilukan.
Pada tahun 2003, Le Van menerima kabar yang mengubah hidupnya selamanya. Dia sedang bekerja jauh dari rumah saat mendengar bahwa istrinya telah meninggal dunia secara mendadak. Anda tahu, waktu bisa begitu kejam. Ketika Van akhirnya kembali, istrinya sudah dimakamkan, dan ia hanya sempat melihat sekilas wajah sang belahan jiwa. Perpisahan singkat itu meninggalkan luka yang mendalam.
Baca Juga: Digitalisasi dan Tata Kelola Efektif, Jasa Raharja Terima Best BUMN Award 2024
Rasa kehilangan Le Van begitu kuat, sehingga selama berbulan-bulan ia tidur di samping makam istrinya. Orang-orang di sekitarnya mungkin mengira dia gila, tapi bagaimana jika Anda berada di posisi Van? Melawan hujan dan angin, ia tetap bertahan, setia menjaga makam istrinya. Namun, cuaca musim hujan yang tak kenal ampun membuatnya berpikir, adakah cara lain untuk terus “bersama” tanpa kehilangan dirinya sendiri?
Dengan tekad yang sulit dimengerti oleh banyak orang, Van membuat keputusan yang mengejutkan. Ia menggali makam istrinya dan membawa pulang jasad yang sudah menjadi kerangka. Dia membungkusnya dengan plester dan membentuk patung, sehingga istrinya “kembali” ke rumah. “Aku tak bisa hidup tanpanya,” kata Le Van dalam wawancara. Tindakan ini membuat bulu kuduk merinding, tetapi cinta, tampaknya, benar-benar membuat orang melakukan hal-hal luar biasa.
Baca Juga: Diseminasi HAM di Palu, Melawan Perundungan demi Generasi Muda Lebih Kuat
Tidak semua orang bisa menerima kenyataan ini. Anak-anaknya marah dan tetangganya menghindar. Beberapa bahkan melapor ke pihak berwenang, khawatir bahwa jasad tersebut mungkin berbahaya. Polisi memang berulang kali mencoba membujuk Van untuk mengembalikan jasad istrinya ke tempat peristirahatan yang layak, tetapi dia tetap teguh. Mungkin Anda bertanya-tanya, apakah cinta seperti ini sehat? Atau, apakah justru tragis?
Kini, Le Van telah memasuki usia lanjut. Selama dua tahun terakhir, dia harus menggunakan kursi roda, tapi itu tak menghentikannya. Dengan sisa kekuatannya, ia masih merangkak ke tempat tidur demi berbaring di samping patung istrinya yang telah dihias dan dirawat dengan hati-hati. Apa yang Anda pikirkan? Sebuah cinta sejati, atau penderitaan yang tak pernah berakhir?
Baca Juga: Pilkada Parigi Moutong, 5726 KPPS Siap Menjaga Suara di 818 TPS
Tidak ada jawaban yang benar atau salah di sini, tetapi kisah ini mengajarkan sesuatu tentang cinta, kehilangan, dan ikatan manusia yang tak terpisahkan oleh kematian. Cinta itu rumit, sering kali tidak logis, dan Le Van adalah bukti hidup betapa perasaan itu bisa bertahan—bahkan hingga tubuh tak lagi bernafas.
Artikel Terkait
Pegawai Kemkomdigi Terlibat Judi Online, BSSN Warning Ratusan Situs Rentan!
Ransomware Ancam Sirekap Pilkada 2024, BSSN Wanti-Wanti Keamanan Sistem
Pilkada Parigi Moutong, 5726 KPPS Siap Menjaga Suara di 818 TPS
Diseminasi HAM di Palu, Melawan Perundungan demi Generasi Muda Lebih Kuat
Digitalisasi dan Tata Kelola Efektif, Jasa Raharja Terima Best BUMN Award 2024