Sulawesitoday - Dulu, semua mata tertuju ke Beijing. Apa pun barangnya—apalagi elektronik—pasti ada label "Made in China". Mulai dari mainan plastik sampai smartphone canggih yang Anda genggam sekarang.
Tapi itu dulu. Sekarang suasananya beda. Angin mulai berubah arah.
Tiongkok, sang raksasa manufaktur itu, mulai goyah. Bukan karena mereka tidak lagi jago bikin barang. Bukan. Tiongkok goyah karena politik. Karena hubungan yang makin "panas" dengan Amerika Serikat.
Donald Trump dulu memulai perang tarif. Joe Biden melanjutkannya. Xi Jinping pun tidak mau kalah gertak. Akibatnya? Para vendor pusing tujuh keliling. Mempertahankan pabrik di China rasanya seperti memegang bara api. Panas dan penuh risiko.
Maka, mereka pun mencari rumah baru. Dan rumah itu adalah: India.
Ambisi 500 Miliar Dolar
Perdana Menteri India, Narendra Modi, bukan tipe pemimpin yang hanya duduk diam. Dia tahu betul ada peluang emas di balik perselisihan AS-China.
Modi punya agenda besar. Namanya: genjot manufaktur domestik. Targetnya pun tidak main-main. India ingin ekspansi manufaktur elektroniknya menembus angka US$500 miliar pada tahun 2030. Itu setara dengan sekitar Rp7.800 triliun lebih.
Angka yang bikin geleng-geleng kepala. Tapi apakah mungkin?
Lihat datanya. Pada tahun fiskal 2024-2025, nilai produksi smartphone India sudah melampaui US$60 miliar. Anda tahu berapa kenaikannya dibanding satu dekade lalu? 28 kali lipat!
Bahkan, ekspornya lebih gila lagi. Melonjak 127 kali lipat menjadi US$21,7 miliar. Kini, HP adalah komoditas ekspor terbesar India sepanjang 2025.
India bukan lagi sekadar pasar yang besar. India sudah jadi pabrik dunia yang baru.
Efek Apple di New Delhi
Siapa motor penggeraknya? Siapa lagi kalau bukan Apple.