• Minggu, 19 Juli 2026

Sentil Pengelola MBG yang Joget di Atas Penderitaan Rakyat, Lita Gading: Mau Lapor Saya?

.
Aswadin, Sulawesi Today
- Selasa, 24 Maret 2026 | 11:39 WIB
Psikolog Lita Gading kritik pedas Hendrik Irawan, mitra Makan Bergizi Gratis (MBG) yang viral karena joget insentif Rp6 juta. Siap bawa ke MK!
Psikolog Lita Gading kritik pedas Hendrik Irawan, mitra Makan Bergizi Gratis (MBG) yang viral karena joget insentif Rp6 juta. Siap bawa ke MK!

Sulawesitoday - Heboh. Benar-benar heboh.

Gara-garanya sederhana: joget. Tapi ini bukan sembarang joget. Ini joget di atas program prestisius pemerintah: Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pelakunya Hendrik Irawan. Seorang mitra pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Di video itu, ia tampak begitu bahagia. Narasi yang beredar menyertainya pun bombastis: insentif Rp6 juta per hari.

Bayangkan. Per hari.

Maka, meledaklah netizen. Komentar pedas berhamburan. Hendrik gerah. Ia merasa dirugikan. Lalu, ia menempuh jalur yang sekarang lagi musim: lapor polisi. Dua akun Instagram dibidik. Rencananya, tanggal 26 Maret lusa, laporan resmi masuk ke Polres Cimahi.

Hendrik merasa dizalimi. Ia bilang, angka Rp6 juta itu bukan korupsi. Bukan uang gelap. Itu sesuai petunjuk teknis (juknis) dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Tapi, bagi Lita Gading, alasan itu tidak masuk akal.

Karut-Marut Citra

Lita Gading bukan orang baru dalam urusan adu urat syaraf. Psikolog ini langsung pasang badan. Lewat Instagramnya, dia menghajar sikap Hendrik.

"Kocak," katanya.

Lita tidak mempermasalahkan program MBG-nya. Programnya mulia. Anak-anak butuh gizi. Yang dia benci adalah perilaku orang di lapangannya. Istilahnya: oknum.

Gaya Lita lugas. Khas dia. "Lu yang joget, netizen yang disalahkan," sindirnya.

Memang ada benarnya. Di era digital ini, mengunggah video ke ruang publik itu seperti melempar daging ke kandang singa. Kalau tidak mau digigit, jangan melempar. Apalagi narasinya sensitif. Di saat banyak rakyat masih susah cari makan, ada pengelola program makan gratis yang pamer angka jutaan sambil bergoyang.

Secara psikologis, itu menyakitkan. Lita menyebutnya: menari di atas penderitaan rakyat.

Halaman:

Editor: Aswadin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini