Sulawesitoday - Indonesia bersiap menarik rem darurat. Bukan rem pandemi, tapi rem konsumsi energi. Pemerintah sudah mengetok palu: Aparatur Sipil Negara (ASN) harus bersiap bekerja dari rumah. Alias Work From Home (WFH).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sudah memasang ancang-ancang. Kebijakan ini akan tancap gas tepat setelah libur Lebaran 2026 usai. Tidak hanya pegawai negeri. Sektor swasta pun akan dikirimi surat imbauan serupa.
"WFH akan didetailkan, tetapi sesudah lebaran kita akan berlakukan," ujar Airlangga saat memberikan keterangan di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu lalu.
Logikanya sederhana: kurangi pergerakan, hemat bensin.
Dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Di Timur Tengah, tensi lagi tinggi-tingginya. Konflik antara Iran dan negara Barat bukan lagi sekadar psy-war. Ini sudah urusan perut global. Dampaknya nyata ke dompet rakyat: harga minyak dunia melonjak.
Selat Hormuz kini jadi pusat perhatian. Inilah jalur "napas" dunia. Sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair (LNG) bumi lewat di sana setiap hari. Begitu jalur ini terbatuk, dunia langsung demam.
Tengok saja Amerika Serikat. Harga bensin di sana sudah melesat 11 persen sejak awal tahun. Bahkan Qatar, raksasa LNG, kabarnya sempat menghentikan total produksinya. Situasi yang membuat banyak orang tua di sana teringat memori kelam tahun 1970-an.
"Bagi sebagian besar warga Amerika, naluri pertama adalah menyaksikan angka di SPBU naik dan merasa tidak berdaya," tulis laporan Fortune pertengahan Maret ini.
Sejarah memang suka berulang. Pada Oktober 1973, dunia pernah mengalami guncangan serupa. Waktu itu ada Perang Yom Kippur. Negara-negara Arab yang tergabung dalam OPEC mengembargo Amerika. Gara-garanya? AS mendukung militer Israel.
Hasilnya ngeri. "Saat itu, mereka tidak hanya menaikkan harga tetapi mereka juga mengurangi pasokan energi," lanjut laporan tersebut. Harga bensin melonjak 40 persen hanya dalam satu bulan.
Kini, hantu krisis energi itu datang lagi. Bedanya, sekarang teknologi sudah ada. Bekerja tidak harus di kantor. Urusan bisnis tidak harus tatap muka.
Negara tetangga seperti Singapura sudah lebih dulu sadar. Mereka mulai menerapkan pengaturan kerja fleksibel. Indonesia pun mengekor. Ini langkah cerdas untuk mengurangi konsumsi BBM tanpa harus mematikan mesin ekonomi.
Pilihan pahit harus diambil. Membatasi perjalanan dinas, memotong jam kantor, dan kembali ke layar laptop di rumah masing-masing. Daripada membiarkan cadangan energi terkuras habis di jalan raya, lebih baik ditarik ke meja makan.
Timur Tengah bergejolak, Jakarta harus putar otak. WFH kini bukan lagi soal gaya hidup digital, tapi soal pertahanan nasional.
Artikel Terkait
Godzilla El Nino Datang April 2026: Jawa-NTT Siaga Kekeringan, Sulawesi Maluku Banjir!
Review realme 16 Pro 5G: Baterai 7000 mAh Paling Tipis, Kamera 200MP Portrait Juara!
OPPO A6t Pro 5G: Baterai 7000 mAh dan Tahan Air Ekstrem, Layak Harga 4 Jutaan?
Satu Genggaman! OpenAI Siapkan Aplikasi Terpadu ChatGPT dan Atlas untuk Saingi Anthropic
Viral! Bukan Cuma Jago Drill, Central Cee Sibuk Bungkus Paket Lebaran Lansia di Singapura