Sulawesitoday - Apakah proyek kereta gantung ke Rinjani resmi dibatalkan? Ya, pemerintah daerah telah menyimpulkan demikian. Mengapa? Karena investor asal China seperti lenyap ditelan bumi, tanpa kabar.
Mimpi megah senilai Rp 2,2 triliun untuk membentangkan kereta gantung menunju Taman Nasional Gunung Rinjani kini tinggal angan.
Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, pada 5 Juli 2025, secara resmi menyatakan proyek tersebut batal. Keputusan pahit ini diambil setelah komunikasi dengan pihak investor dari Negeri Tirai Bambu itu putus total.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Lombok Tengah, Lalu Wiranata, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
"Sejak peletakan batu pertama, tak ada tindak lanjut. Jadi kami anggap batal," ujar Wiranata, Jumat (4/7) lalu. Sebuah penantian panjang yang berujung hampa.
Proyek ambisius ini semula direncanakan rampung pada tahun 2025. Ia dirancang membelah bentangan sejauh 10 kilometer, mulai dari kawasan wisata Aik Berik, menuju titik akhir yang berjarak sekitar dua kilometer di bawah Pelawangan Rinjani.
Peletakan batu pertama pada Desember 2022 lalu sempat menyulut optimisme, digaungkan bakal menjadi ikon wisata baru Nusa Tenggara Barat, penarik ribuan pelancong dari pelosok dunia.
Namun, roda waktu berputar, dan kemajuan yang dinanti tak kunjung datang. Progres pembangunan seperti jalan di tempat, atau bahkan tak bergerak sama sekali. Akhirnya, pemerintah daerah mengambil kesimpulan tegas: proyek ini mangkrak, seolah tertidur pulas tanpa harapan bangun.
"Kami sudah laporkan hal ini ke Pemerintah Provinsi NTB, sambil menunggu kemungkinan adanya investor baru," tambah Wiranata, menyiratkan secercah harapan di tengah puing-puing rencana.
Kisah proyek ini memang tak sepi dari polemik. Di satu sisi, para pegiat lingkungan dan masyarakat adat Rinjani lantang menolak.
Kekhawatiran akan terganggunya ekosistem kawasan konservasi yang suci ini menjadi alasan utama. Mereka melihat Rinjani bukan hanya gunung, tapi juga rumah bagi keanekaragaman hayati dan warisan leluhur.
Di sisi lain, ada suara yang menilai proyek ini adalah jembatan emas untuk meningkatkan aksesibilitas dan jumlah wisatawan, menjanjikan geliat ekonomi bagi warga sekitar. Sebuah dilema klasik antara konservasi dan pembangunan.
Baca Juga: Jerat Hukum Ancam Kades di Parigi Moutong, Kejari Intensif Selidiki Korupsi Dana Desa Tanpa LPj
Hingga berita ini diturunkan, misteri di balik hilangnya kontak dengan investor masih belum terpecahkan. Tak ada pernyataan resmi dari pihak mereka yang menjelaskan alasan di balik kemangkrakkan ini.
Artikel Terkait
Rp162 Triliun Diguyur, Danantara dan ACWA Power Sulap Transisi Energi Indonesia Lewat Kolaborasi Megah dengan Pertamina
Dugaan Pelecehan di UNM, Ujian Susulan Berubah Horor di Rumah Pribadi - Mahasiswi Jadi Korban Akal Bulus Oknum Dosen
Surat Pemakzulan Gibran Menggantung di DPR, Apa Kata Puan Maharani dan Dasco?
Jerat Hukum Ancam Kades di Parigi Moutong, Kejari Intensif Selidiki Korupsi Dana Desa Tanpa LPj
Disdikbud Parigi Moutong: Pungutan Ijazah Ilegal, Sekolah Jangan Main-Main!