Sulawesitoday - Mengapa seorang Luhut Binsar Pandjaitan sampai harus turun tangan memarahi publik soal ijazah?** Jawabannya sederhana: karena drama berkepanjangan ini sudah melampaui batas kewajaran dan mengalihkan fokus dari urusan yang benar-benar penting.
Seperti sebutir debu yang terus mengganggu mata, isu keaslian ijazah mantan Presiden Joko Widodo kembali mencuat ke permukaan. Kali ini, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan tampil dengan kemarahan yang tak tertahankan.
"Jangan sakit jiwa semua, apa yang dibicarakan nggak perlu-perlu. Bicara yang penting mengenai keadaan dunia ini," ujar Luhut dengan nada yang tak bisa disembunyikan lagi kesalnya.
Pernyataan keras itu meluncur saat menghadiri International Conference on Infrastructure (ICI) di Jakarta International Convention Center (JICC), Kamis (12/6/2025). Suasana forum yang semula formal mendadak berubah tegang ketika wartawan melontarkan pertanyaan seputar kontroversi yang tak kunjung usai itu.
Sebelumnya, di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (28/7/2025), Luhut sudah memberikan sinyal ketidaksabarannya. Dengan gerak tubuh yang menunjukkan frustrasi, dia menegaskan bahwa soal ijazah bukanlah ukuran kontribusi seseorang.
"Apa sih ijazah itu? Saya pun enggak tahu ijazah saya di mana saya taruh, dan saya pikir itu tidak relevan," katanya sembari menggeleng kepala.
Bagi Luhut, yang terpenting adalah bukti nyata yang bisa dirasakan rakyat. "Yang paling relevan itu apa yang kau berikan, kontribusikan pada negara ini," tegasnya dengan suara yang meninggi.
Benang sengkarut perdebatan ini memang sudah terlalu panjang. Ibarat film drama yang tak kunjung tamat, isu ijazah Jokowi terus berulang meski sudah ada klarifikasi resmi dari berbagai pihak berwenang. Bareskrim Polri telah menyelidiki, Universitas Gadjah Mada (UGM) sudah mengklarifikasi, namun sebagian pihak masih saja mempertanyakan.
"Negeri ini tidak butuh drama, tapi butuh ide dan kontribusi nyata," ujar Luhut dengan penuh penekanan.
Mantan jenderal ini kemudian mengingatkan pencapaian konkret selama dua periode kepemimpinan Jokowi. Infrastruktur yang mengubah wajah Indonesia, reformasi birokrasi yang memangkas red tape, hingga program sosial yang menyentuh akar rumput. Semua itu, menurutnya, jauh lebih bermakna ketimbang selembar kertas ijazah.
Di tengah diskusi yang semakin memanas, Luhut melontarkan sindiran yang cukup pedas. "Kalau enggak ada kontribusinya ke negara, percuma juga punya ijazah segunung."
Kalimat itu bagaikan tamparan halus bagi mereka yang masih terjebak dalam pusaran kontroversi tanpa substansi. Sementara dunia sedang bergulat dengan krisis global, sebagian anak bangsa justru masih asyik berdebat soal hal yang sudah jelas statusnya.
Luhut menutup pernyataannya dengan nada yang lebih tenang namun tetap tegas. Menurutnya, publik seharusnya mengalihkan energi untuk mendukung agenda pembangunan dan ketahanan nasional. Bukan malah terjebak dalam lingkaran drama yang tak berujung.
"Byar-petnya luar biasa kalau kita terus begini," pungkasnya dengan ekspresi yang menunjukkan keprihatinan mendalam.
Artikel Terkait
Ekonom UPN Bongkar Fakta, Kemiskinan Indonesia Turun Lambat Meski Anggaran Perlindungan Sosial Rp425 Triliun
Gelombang Protes BEM SI di Patung Kuda, Indonesia Cemas 2025 dengan 11 Tuntutan Strategis
Heroik, Pekerja Jembatan Nekat Terjun ke Sungai Tarailu Selamatkan Rekan yang Kecelakaan Kerja - Dua Masih Hilang
Tiga Kurir Lintas Negara Terjerat, Polda Sulteng Sita 30 Kg Sabu dari Malaysia
Pasar Masomba Palu Terbakar, Asap Hitam Mengepul Picu Kepanikan Warga