Sulawesitoday - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melempar ancaman keras. Targetnya jelas: para importir pakaian bekas ilegal. Kali ini bukan sekadar peringatan kosong. Purbaya berjanji membawa sanksi berlapis yang belum pernah ada sebelumnya.
Pernyataan tegas itu meluncur Senin, 27 Oktober 2025. Lokasi? Menara Bank Mega, Jakarta. Purbaya bicara langsung pada wartawan. Nadanya serius. Matanya tajam. "Saya harapkan mereka mulai hentikan itu," ujarnya lugas. "Karena ke depan, kita akan tindak."
Bukan main-main. Menkeu menegaskan operasi pemeriksaan terus berjalan. Lapangan sudah bergerak. Waktu terus berjalan. "Sekarang pun di lapangan kita periksa terus dari waktu ke waktu," tambahnya. Lalu datang kalimat yang membuat bulu kuduk merinding. "Kalau ketangkap ya nggak bisa kayak dulu lagi."
-
Apa Sanksi Baru yang Disiapkan Purbaya?
Selama ini hukuman untuk pelaku impor balpres ilegal terbilang ringan. Barang dimusnahkan. Pelaku dipenjara. Selesai. Tapi Purbaya menilai itu tidak adil. "Saya pernah tanya pada orang Bea Cukai apa hukumannya," ceritanya dengan nada skeptis. "Hukumannya hanya barang dimusnahkan terus orangnya dipenjara."
Ia merasa dirugikan. "Saya bilang saya rugi harus ngeluarin uang untuk pemusnahan dan ngasih makan orang," keluhnya. Maka lahirlah konsep sanksi baru. Berlapis. Lebih menggigit.
Pertama, barang tetap dimusnahkan. Kedua, pelaku kena denda materil. Ketiga, penjara tetap menanti. Keempat—ini yang paling menakutkan—pelaku akan di-*blacklist* seumur hidup. "Nanti barangnya dimusnahkan, orangnya didenda, dipenjara juga," Purbaya merinci. "Nanti di-blacklist yang terlibat itu saya akan larang impor seumur hidup."
Kapan aturan ini berlaku? Purbaya tidak memberi kepastian waktu pasti. Tapi ia menjanjikan akan keluar secepat mungkin. Keseriusan terasa dalam setiap kata yang meluncur.
-
Kenapa Kemenkeu Bertindak Sendiri Tanpa Kemendag?
Pertanyaan menggantung di udara. Bukankah impor juga ranah Kementerian Perdagangan? Purbaya punya jawaban tegas. "Kan ini ilegal, kenapa mesti bicara dengan Menteri Perdagangan?" tanyanya retoris. Logikanya sederhana namun kuat. Yang menjaga pintu masuk adalah Bea Cukai. Dan Bea Cukai ada di bawahnya.
"Ini kan yang jaga pasti Bea Cukai," jelasnya. "Nanti di lapangan mungkin baru peran Kementerian Perdagangan." Fokus Purbaya jelas: port-port masuk. Pelabuhan laut. Bandara. Semua titik strategis yang dikuasai Bea Cukai. "Saya fokus di alat-alat yang kuasain, Bea Cukai, pajak, dan lain-lain," tegasnya.
Lalu Purbaya melempar pernyataan provokatif. Siapa yang menolak aturannya? Tangkap duluan. "Siapa yang nolak, saya tangkap duluan," katanya dengan nada menantang. "Kalau yang pelaku thrifting nolak-nolak itu ya saya tangkap duluan, berarti dia pelakunya."
Logika sederhananya mengejutkan. Penolakan = pengakuan. "Clear. Malah maju, malah untung karena dia ngaku pelaku impor ilegal, kan," tambahnya. Strategi psikologis yang cerdik sekaligus menakutkan.
-
Bagaimana Nasib Pedagang Thrift Setelah Impor Ditutup?
Pertanyaan ini pasti melintas di benak banyak orang. Jika impor balpres ditutup total, dari mana pedagang thrift mendapat stok? Purbaya sudah punya jawaban. Solusinya: produk lokal.
"Kalau itunya (impor balpres) mati, berarti nggak ada suplai?" Purbaya melempar pertanyaan retoris. "Suplainya dari barang-barang domestik harusnya nanti." Tujuannya jelas. "Biar industri domestik juga hidup lagi."
Mantan Ketua Dewan Komisioner LPS ini menekankan pentingnya keadilan ekonomi. "Ya nanti dia beli pakaian-pakaian dari produksi dalam negeri," ujarnya. "Masa kita legalkan yang ilegal sementara perusahaan dalam negeri mati?" Pertanyaan menggelitik yang sulit dibantah.
Artikel Terkait
Dugaan Kerugian Negara Menganga, Politisi Golkar Desak Audit Menyeluruh Sistem Coretax Warisan Era Lama
Pengamat Lihat Frustasi Menkeu Purbaya Meledak Soal Coretax Dinilai Setara Karya Lulusan SMA
Rp234 Triliun Tidur di Bank, DPR Desak Pemda Segera Cairkan Dana Daerah
Tiga Musuh Bersama yang Mesti Dilawan Prabowo Agar Rakyat Solid di Belakangnya, Kata Konsultan Politik
Purbaya Bawa Data Survei LPS Bantah Kritikan Hasan Nasbi Soal Gaya Komunikasi