• Selasa, 21 Juli 2026

Purbaya Bawa Data Survei LPS Bantah Kritikan Hasan Nasbi Soal Gaya Komunikasi

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Senin, 27 Oktober 2025 | 18:20 WIB
Purbaya unjuk data survei LPS bantah kritik Hasan Nasbi. Kepercayaan publik naik, bukan turun. Siapa benar: data atau persepsi?
Purbaya unjuk data survei LPS bantah kritik Hasan Nasbi. Kepercayaan publik naik, bukan turun. Siapa benar: data atau persepsi?

Sulawesitoday - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa unjuk data. Survei Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) jadi senjatanya. Ini jawaban untuk Hasan Nasbi, mantan Kepala PCO yang soroti gaya komunikasinya.

Senin, 7 Oktober 2025. Menara Bank Mega, Jakarta. Purbaya gelar konferensi pers dadakan. Ia bawa grafik indeks kepercayaan publik. "Ini baru keluar angka bulan Oktober," katanya sambil tunjuk layar presentasi. "Kalau ini jatuh seperti ini, keadaan buruk. Kalau ke sana, itu bagus."

Grafiknya menunjukkan pola menarik. Juli, Agustus, September—garis merah terus merosot. Titik terendah bertepatan dengan gelombang demonstrasi besar-besaran. Tapi Oktober? Garis itu naik kembali. Stabil, kata Purbaya. Bahkan hampir sama dengan level sebelum krisis kepercayaan melanda.

  • Apa yang Bikin Kepercayaan Publik Naik Lagi?

Purbaya punya penjelasan sendiri. Kebijakannya yang drastis, menurutnya, jadi kunci pemulihan. "Setelah kita lakukan kebijakan yang mungkin untuk sebagian kalangan agak drastis, agak ceplas-ceplos," ujarnya dengan nada santai. "Tapi ini berhasil mengembalikan sentimen masyarakat ke pemerintah."

Ia tak sebutkan detail kebijakan mana. Yang jelas, angka-angka itu bicara. Kepercayaan masyarakat membaik. Levelnya sudah stabil lagi. "Jadi, stabilitas pemerintah amat baik di mata masyarakat," tegasnya. Lalu ada jeda singkat. "Kecuali di mata orang itu ya," tambahnya—merujuk pada kritik Hasan Nasbi.

Mantan Ketua Dewan Komisioner LPS itu juga paparkan korelasi menarik. Ekonomi dan kepercayaan, kata dia, berjalan beriringan. "Ketika ekonomi buruk, mereka nggak suka pemerintah. Makanya ada demo besar-besaran," terangnya. "Tapi ketika mulai baik, mereka juga seneng ke pemerintah."

Data daya beli dan sentimen konsumen mendukung klaimnya. Triwulan ketiga 2025 menunjukkan perbaikan. Belanja rumah tangga meningkat tipis. Purbaya lihat ini sebagai bukti strateginya berhasil.

  • Benarkah Gaya Purbaya Dapat Restu Presiden Prabowo?

Ini klaim paling berani Purbaya. Ia sebut dirinya bukan koboi. Malah perpanjangan tangan Presiden Prabowo Subianto. "Jangan anggap saya koboi," katanya. "Saya perpanjangan tangan dari Bapak Presiden dengan versi yang lebih halus malah."

Menurut Purbaya, presiden beri lampu hijau. Bahkan mendorong pendekatan agresifnya. "Saya pernah bilang ke beliau, saya akan memastikan belanjanya tepat waktu," ungkapnya. "Beliau bilang, 'go ahead aja, jalan' karena kita perlu ekonomi yang lebih cepat di triwulan keempat tahun ini."

Fokusnya sederhana: penyerapan anggaran. Bukan mencampuri kebijakan kementerian lain. "Saya tidak mencampuri kebijakan mereka," jelasnya. "Tapi memastikan penyerapan anggarannya tepat. Karena uangnya kan ada biayanya untuk saya, ada cost-nya."

Klaim ini sulit diverifikasi. Istana belum beri konfirmasi resmi. Tapi Purbaya terlihat yakin. Bahkan optimis ekonomi triwulan keempat bakal lebih baik. "Udah mulai kelihatan kan?" katanya. "Saya harus harapkan ke depan lebih bagus lagi."

  • Kenapa Hasan Nasbi Khawatir dengan Gaya Ceplas-ceplos?

Kritik Hasan Nasbi muncul Jumat, 24 Oktober 2025. Lewat kanal YouTube pribadinya, mantan Kepala PCO itu sampaikan kekhawatiran. Gaya komunikasi Purbaya, menurutnya, bisa melemahkan pemerintah.

"Itu akan melemahkan pemerintah," kata Hasan Nasbi dalam video berdurasi 12 menit itu. "Kita kalau mau baku tikam di ruang tertutup. Mau saling koreksi, mau saling marah-marah, mau saling debat, mau tunjuk-tunjukkan di ruang tertutup."

Hasan khawatir publik salah tangkap. Pertikaian internal, kata dia, bisa dilihat sebagai ketidaksolidan. "Kalau di ruang terbuka, kita nanti akan menghibur orang yang tidak suka dengan pemerintah," paparnya. "Lama-lama, kalau ini diteruskan bisa membuat pemerintah kelihatan lemah, nggak solid, gampang dipecah belah, dan diadu domba."

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini