• Selasa, 21 Juli 2026

Marah Besar, Video Truk Kayu Gelondongan Pasca-Bencana Bikin Titiek Soeharto Semprot Menteri Kehutanan

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Kamis, 4 Desember 2025 | 18:51 WIB
Titiek Soeharto marah besar saat rapat DPR. Truk kayu raksasa lewat dua hari pasca-banjir Sumatera. Menhut Raja Juli disemprot habis.
Titiek Soeharto marah besar saat rapat DPR. Truk kayu raksasa lewat dua hari pasca-banjir Sumatera. Menhut Raja Juli disemprot habis.

Sulawesitoday - Suasana rapat kerja Komisi IV DPR berubah tegang. Kamis, 4 Desember 2025. Kompleks Parlemen, Jakarta. Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto tidak bisa menahan emosi. Amarahnya meledak. Kesedihannya kentara. 

Biang keroknya? Video truk-truk bermuatan kayu gelondongan diameter jumbo. Beredar dua hari pasca banjir bandang Sumatera. Bencana itu menelan korban. Merusak banyak wilayah. Namun truk-truk itu tetap melintas. Seolah tak peduli duka rakyat.

Rapat kerja dengan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dimulai dengan pemutaran video. Layar menampilkan deretan truk pengangkut pohon. Diameternya mencapai 1,5 meter. Ukuran yang tidak lazim. Menandakan pohon tua berusia puluhan tahun. Batang kayu raksasa itu terikat di bak truk. Melintasi jalan raya. Di tengah situasi pascabencana yang mencekam.

Video itu bak cambuk bagi Titiek. Matanya menatap tajam. Bibirnya terkatup rapat. Setelah tayangan selesai, ia langsung angkat bicara. Nada suaranya naik. Tak ada lagi basa-basi diplomatis.

  • Mengapa Titiek Soeharto Begitu Marah?

"Terus terang saya sedih. Miris. Dan saya marah," ucap Titiek memulai. Kalimatnya pendek-pendek. Namun berbobot. Seperti tembakan beruntun. 

Ia mempertanyakan akal sehat. Bagaimana mungkin pohon sebesar itu ditebang? Siapa yang berani melakukannya? Di tengah situasi darurat bencana? Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di ruang rapat. Mencari jawaban yang tak kunjung datang.

"Ini manusia mana di Indonesia yang seenaknya motong-motong kayu seperti itu?" tanya Titiek retoris. Pertanyaannya menohok. Menyiratkan kecurigaan kuat. Ada oknum tak bertanggung jawab. Memanfaatkan situasi kacau pascabencana. Untuk mengeruk keuntungan gelap.

Putri Presiden ke-2 RI ini juga menyoroti timing yang janggal. Truk-truk itu melintas hanya dua hari setelah banjir bandang. Saat warga masih berduka. Masih mencari korban hilang. Masih membersihkan lumpur. Aktivitas pengangkutan kayu itu terkesan mengejek. Tak punya rasa empati sedikitpun.

"Sungguh menyakitkan Pak Menteri. Ini kalau orang Jawa bilang ngece," ungkap Titiek dengan nada getir. Kata 'ngece' ia tekankan. Mengejek. Meremehkan penderitaan rakyat. "Perusahaan ini mengejek. Baru kita kena bencana, dia lewat di depan muka kita," tambahnya.

Pernyataan Titiek bukan sekadar emosi sesaat. Ada keprihatinan mendalam di baliknya. Ia melihat pola sistematis. Eksploitasi hutan yang tak terkendali. Merusak lingkungan. Memicu bencana ekologis. Dan ironisnya, praktik itu masih berjalan. Bahkan saat bencana tengah melanda.

  • Apa Tuntutan Titiek kepada Menteri Kehutanan?

Titiek tidak berhenti pada kemarahan. Ia melontarkan desakan konkret. Langsung kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Yang duduk tepat di hadapannya. Wajah menteri terlihat serius. Mendengarkan setiap kata.

"Kami tidak mau hanya moratorium," tegas Titiek. Moratorium dinilainya setengah hati. Bisa dicabut kapan saja. Tidak memberikan efek jera. "Moratorium itu besok-besok bisa dihidupin lagi. Tapi dihentikan. Enggak usah ada lagi pohon-pohon besar yang dipotong-potong," lanjutnya dengan nada final.

Titiek menginginkan penghentian total. Bukan sekadar jeda sementara. Penebangan pohon-pohon besar harus disetop. Permanen. Tanpa kompromi. Ini bukan permintaan. Melainkan perintah dari lembaga legislatif.

Yang lebih menarik, Titiek juga menyinggung pihak-pihak berpengaruh. Yang diduga berada di balik praktik ilegal ini. "Mau siapa kek itu di belakangnya. Mau bintang-bintang kayak mau apa. Kita tegakkan hukum yang seegak-tegaknya. Siapapun itu," ujarnya lantang.

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini