Nantinya, Kopdes Merah Putih yang akan membeli hasil tani mereka. Petani cukup bawa hasil panen ke gedung yang viral itu. Biar koperasi yang urus distribusi ke luar.
"Ke depan, koperasi bisa membeli hasil tani warga. Jadi petani tidak perlu jauh-jauh turun ke bawah," tambah Rudi.
Kini, gedung itu sudah berdiri. Masih bau cat. Pro dan kontra adalah bumbu. Memang, letaknya terlihat sunyi di kamera ponsel. Tapi bagi warga empat dusun di lereng Prau, gedung itu adalah harapan agar mereka tidak terus-menerus kalah oleh jarak.
Publik tinggal menunggu. Apakah koperasi ini benar-benar akan berdenyut, atau sekadar menjadi prasasti beton di tengah gunung.
Artikel Terkait
Legislator Mustakim Kono Pasang Badan Hadang Penggusuran Warga Demi Smelter
Gaya Door to Door Anleg Nurul Qiram di Palasa, Serap Aspirasi hingga Beri Bantuan Langsung
Antre Wisuda Sampai November, Muhammad Ajrun Segera Sah Sandang Gelar Sarjana di Unsulbar
Korban Banjir Toribulu Dua Tahun Menunggu Atap
Dua PPK, Satu Kontrak dan Denda Rp459 Juta Juga Ikut Berubah