Sulawesitoday - Kantor Desa Sibalago tidak terlalu besar. Tapi sore itu, Jumat 24 April 2026, kursi-kursinya penuh. Pukul 15.30 WITA. Warga datang bukan untuk sekadar hadir. Mereka datang untuk menagih.
Sudah dua tahun lebih.
Sejak banjir besar 2024 menyapu sebagian Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, ribuan harapan ikut hanyut. Rumah rusak. Jalan putus. Dan yang paling menyakitkan — janji pemerintah soal Hunian Tetap belum juga tiba.
Reses bukan sekadar ritual dewan. Ia seharusnya menjadi jembatan antara gedung legislatif dan debu jalanan. Antara angka di kertas anggaran dan tangis di sudut desa yang terlupakan. Pertanyaannya sederhana: apakah jembatan itu benar-benar bisa memikul beban seberat ini?
Anggota DPRD Kabupaten Parigi Moutong dari Fraksi Partai Demokrat, Rusno A.h T, hadir di tengah pertanyaan itu.
Yang datang bukan hanya warga biasa. Camat Toribulu hadir. Sekcam. Kepala Desa Sibalago dan Kepala Desa Sienjo. Jajaran kepala dusun. Tokoh masyarakat. Satu meja, satu masalah yang sama.
Hunian Tetap. Dua kata yang terdengar sederhana. Tapi bagi korban banjir 2024, dua kata itu adalah segalanya.
Pemerintah desa berbicara pertama. Mereka menyampaikan apa yang sudah lama tersimpan. Bantuan Huntap belum terealisasi. Warga masih menunggu. Sebagian mungkin masih tinggal di hunian yang tidak layak, di bangunan yang retak diterpa banjir, atau menumpang di rumah saudara.
Kemudian soal jalan.
Jalan desa yang rusak parah pascabanjir belum juga diperbaiki. Bukan cuma soal kenyamanan. Ini soal akses. Akses ke pasar. Ke sekolah. Ke puskesmas. Ke kehidupan yang normal. Ketika jalan putus, separuh dari ekonomi desa ikut putus.
Rusno mendengarkan. Lalu berbicara.
"Masalah Huntap dan perbaikan jalan pascabanjir ini menyangkut harkat hidup warga kami. Saya pastikan aspirasi ini menjadi prioritas utama untuk saya suarakan dalam rapat pembahasan anggaran, agar saudara-saudara kita korban banjir 2024 segera mendapatkan kepastian tempat tinggal." Rusno A.h T, Anggota DPRD Parigi Moutong, Fraksi Demokrat
Kata-kata itu keluar tegas. Tapi telinga warga yang sudah sering mendengar janji mungkin menangkapnya dengan cara berbeda. Harapan dan kecurigaan selalu berjalan beriringan di desa yang sudah terlalu lama menunggu.
Lalu ada yang menarik.
Artikel Terkait
Sedekah Makanan di Majene, Menghidupkan Warisan Hj Nurjannah Latief
Reses Malam di Donggulu, Harapan di Pundak Sayutin
Legislator Mustakim Kono Pasang Badan Hadang Penggusuran Warga Demi Smelter
Gaya Door to Door Anleg Nurul Qiram di Palasa, Serap Aspirasi hingga Beri Bantuan Langsung
Antre Wisuda Sampai November, Muhammad Ajrun Segera Sah Sandang Gelar Sarjana di Unsulbar