Di antara dialog soal hunian dan infrastruktur yang berat itu, Rusno melakukan sesuatu yang tidak ada dalam agenda resmi. Ia mengeluarkan bantuan dari kantong pribadi untuk mendukung pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran di Desa Sibalago.
Sebuah kontras yang mencolok.
Huntap belum turun dari pemerintah. Tapi dana MTQ bisa datang dari kantong seorang legislator hari itu juga.
Bukan berarti salah. Kepedulian terhadap syiar keagamaan adalah hal yang mulia. Tapi kontras itu berbicara sendiri — betapa lambatnya birokrasi bergerak dibanding niat baik seorang manusia.
"Bantuan ini adalah bentuk dukungan moral dan materiil saya secara pribadi agar syiar Islam melalui MTQ di desa ini dapat berjalan sukses dan melahirkan generasi religius yang membanggakan." Rusno A.h T.
Matahari mulai turun ketika pertemuan usai.
Warga pulang. Membawa aspirasi yang sudah disampaikan. Membawa harapan yang sudah diagendakan. Dan membawa pertanyaan yang belum terjawab.
Kapan Huntap itu datang? Kapan jalan itu diperbaiki?
Di Sibalago, waktu tidak berjalan seiring janji. Ia berjalan seiring kenyataan. Dan kenyataan hari itu adalah: warga Toribulu masih menunggu.
Dua tahun setelah banjir. Mungkin akan ada tahun ketiga.
Gaya Door to Door Anleg Nurul Qiram di Palasa, Serap Aspirasi hingga Beri Bantuan Langsung
Artikel Terkait
Sedekah Makanan di Majene, Menghidupkan Warisan Hj Nurjannah Latief
Reses Malam di Donggulu, Harapan di Pundak Sayutin
Legislator Mustakim Kono Pasang Badan Hadang Penggusuran Warga Demi Smelter
Gaya Door to Door Anleg Nurul Qiram di Palasa, Serap Aspirasi hingga Beri Bantuan Langsung
Antre Wisuda Sampai November, Muhammad Ajrun Segera Sah Sandang Gelar Sarjana di Unsulbar