• Kamis, 4 Juni 2026

Mekanisme Subduksi Lempeng di Sumatera Utara: Apa yang Terjadi Saat Gempa M5,2?

.
Amirullah, Sulawesi Today
- Minggu, 22 September 2024 | 10:34 WIB
Gempa M5,2 mengguncang Padang Sidempuan, Sumatera Utara, tidak berpotensi tsunami. BMKG menganjurkan waspada bangunan retak. (Amirullah)
Gempa M5,2 mengguncang Padang Sidempuan, Sumatera Utara, tidak berpotensi tsunami. BMKG menganjurkan waspada bangunan retak. (Amirullah)

Sulawesitoday - Pada malam Kamis, 19 September 2024, wilayah Padang Sidempuan, Sumatera Utara, diguncang gempa tektonik dengan magnitudo M5,2. Cukup signifikan, bukan? Gempa ini terjadi sekitar pukul 23.14 WIB, berdasarkan laporan resmi BMKG. Untuk sebagian orang di sana, malam yang tenang berubah menjadi kepanikan dalam hitungan detik.

Episenter gempa berada pada koordinat 0,81° LU dan 98,72° BT. Secara sederhana, ini berada sekitar 87 kilometer di barat daya Padang Sidempuan, dengan kedalaman gempa mencapai 82 kilometer. Cukup dalam, sehingga tidak terlalu merusak di permukaan. Namun, getarannya terasa hingga Gunung Sitoli dan Tapanuli Tengah, dengan skala intensitas III MMI. Artinya, kalau kamu lagi di rumah, getarannya cukup nyata. Bahkan, terasa seperti ada truk besar yang sedang melintas.

Apa Penyebabnya?

Kalau kita bicara soal penyebabnya, ini bukan sekadar gempa biasa. Gempa ini dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia yang sedang 'menyelam' di bawah Lempeng Eurasia. Fenomena ini terjadi di zona yang dikenal sebagai intraslab. Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa menengah. Kedalaman hiposenternya, atau titik pusat gempanya, mengonfirmasi bahwa ini bukan gempa dangkal yang seringkali lebih merusak.

Baca Juga: Warga Kertasari Korban Gempa Bandung Pilih Tidur di Tenda, Trauma Akibat Guncangan Terasa Hingga Infrastruktur Rusak

Menariknya, mekanisme pergerakan yang terjadi dikenal dengan istilah oblique thrust fault, yang dalam bahasa sederhana berarti ada perpaduan antara pergerakan mendatar dan naik. Nah, ini yang bikin gempa tersebut terasa cukup kuat, meskipun lokasinya ada di laut.

Dampak dan Ketenangan Pasca-Gempa

Meskipun getarannya terasa cukup kuat di beberapa wilayah, kabar baiknya adalah gempa ini tidak menimbulkan ancaman tsunami. Hasil pemodelan dari BMKG sudah memastikan hal tersebut. Jadi, kalau ada yang mendengar isu-isu simpang siur soal tsunami, jangan langsung percaya, ya.

Lalu, bagaimana dampaknya di wilayah lain? Sejauh ini, daerah Gunung Sitoli dan Tapanuli Tengah melaporkan getaran intensitas III MMI. Kalau kamu berada di dalam rumah saat itu, mungkin kamu akan merasa seperti ada getaran kecil yang membuat perabotan bergoyang.

Namun, gempa kali ini bukan yang paling parah di Sumatera Utara. Beberapa warga sudah terbiasa dengan gempa-gempa menengah seperti ini, dan untungnya, tidak ada laporan besar mengenai kerusakan yang signifikan atau korban jiwa.

Gempa Susulan dan Himbauan BMKG

Sampai pukul 23.40 WIB, BMKG belum mendeteksi adanya gempa susulan atau aftershock. Itu tentu membawa sedikit kelegaan, tetapi tetap saja, warga dihimbau untuk tetap waspada. Tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga, kan?

BMKG juga memberikan beberapa rekomendasi penting bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak. Pertama, tetap tenang dan jangan percaya isu-isu yang belum tentu benar. Terutama, hindari sumber informasi yang tidak resmi. Kita semua tahu betapa cepatnya informasi tidak valid bisa menyebar, terutama di era media sosial ini. Jadi, pastikan semua info yang kamu dapatkan berasal dari BMKG, seperti dari aplikasi resmi mereka atau akun sosial media yang sudah terverifikasi.

Tindakan Pencegahan

Halaman:

Editor: Amirullah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini