Sulawesitoday - Kebakaran hebat melanda sebuah rumah di Desa Uwelolu, Kecamatan Toili Barat, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Rabu siang (25/9/2024). Rumah tersebut, milik Putu Rudi Artana (33), terbakar habis saat pemiliknya sedang beribadah di Pura untuk merayakan Hari Raya Galungan.
“Saat kejadian, pemilik rumah sedang melakukan sembahyang hari raya Galungan di Pura,” ujar Kapolsek Toili, AKP Raden Hermawan.
Api mulai terlihat sekitar pukul 10.45 WITA, ketika Putu Rudi sedang tidak berada di rumah. Sebelumnya, pada pukul 09.00 WITA, ia meninggalkan rumahnya untuk beribadah, meninggalkan dupa atau benten yang masih menyala di dalam kamar. Ini adalah hal yang biasa dilakukan dalam rangkaian persembahyangan Galungan, namun sayangnya, insiden kali ini berujung tragis.
Sulit dipercaya, tetapi semua barang berharga milik Putu Rudi tak ada yang bisa diselamatkan. Barang-barang elektronik, perabotan rumah, dan dokumen penting musnah terbakar tanpa sisa. "Korban tak sempat menyelamatkan apa pun karena saat kejadian sedang beribadah," lanjut AKP Raden.
Baca Juga: DWP Pengayoman Salurkan Bantuan di LPKA Palu: Dorong Anak Binaan Berprestasi
Bersama warga setempat, petugas polisi dan Tim Damkar Pertamina EP langsung bergerak cepat untuk memadamkan api. Namun, upaya tersebut terhambat oleh intensitas api yang sangat cepat menyebar. Dalam waktu yang terbilang singkat, rumah tersebut habis dilalap si jago merah. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, tetapi kerugian material ditaksir mencapai Rp 120 juta.
Berbicara tentang kebakaran di saat perayaan Galungan, ini bukan pertama kali kejadian semacam ini terjadi. Ada kecenderungan bahwa rumah-rumah kosong saat perayaan besar seperti Galungan bisa menjadi rawan terhadap insiden kebakaran. Meskipun menyalakan dupa untuk persembahyangan adalah bagian dari tradisi yang tak terpisahkan, peristiwa ini bisa menjadi peringatan bagi warga untuk lebih waspada.
Melihat situasi seperti ini, tidak hanya sekadar soal kehilangan materi, tetapi dampak emosional juga terasa berat. Kebakaran yang merenggut tempat tinggal bukanlah perkara sepele, apalagi ketika kebakaran tersebut terjadi saat kita sedang menjalankan ibadah. Rasanya pasti ada campuran antara perasaan kehilangan dan penyesalan.
Menurut beberapa warga setempat, kebakaran rumah memang sering kali disebabkan oleh kelalaian kecil, seperti meninggalkan api menyala tanpa pengawasan. Dupa, lilin, atau peralatan elektronik yang lupa dimatikan bisa menjadi pemicu utama kebakaran. Meski sudah banyak peringatan, tampaknya risiko kebakaran akibat kelalaian semacam ini masih sering diabaikan.
Menghindari Insiden Kebakaran di Masa Mendatang
Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari kejadian ini. Jika Anda berencana meninggalkan rumah untuk waktu yang lama, sebaiknya pastikan semua sumber api dalam kondisi aman. Periksa ulang kompor, dupa, lilin, atau alat elektronik lainnya sebelum pergi. Hal sederhana seperti ini mungkin terdengar klise, tetapi faktanya bisa menyelamatkan rumah Anda dari insiden tak terduga.
Selain itu, memasang detektor asap dan sistem pemadam api otomatis mungkin tampak mahal di awal, namun bisa mengurangi risiko kebakaran. Memiliki kontak darurat, seperti pemadam kebakaran atau layanan terkait, juga penting agar pertolongan bisa cepat datang.
Namun, dalam kasus Putu Rudi, meskipun semua langkah pencegahan sudah dilakukan, terkadang ada hal-hal yang benar-benar di luar kendali kita. Itulah hidup, bukan? Tragedi datang ketika kita paling tidak menduganya.
Bantuan untuk Korban Kebakaran
Artikel Terkait
DWP Pengayoman Salurkan Bantuan di LPKA Palu: Dorong Anak Binaan Berprestasi