Sulawesitoday - Dalam sebuah momen tak terduga, sebuah tank milik tentara Rusia dengan sebutan "Bro Z" menjadi pusat perhatian karena menampilkan tulisan-tulisan unik yang berkaitan dengan salah satu makanan tradisional Indonesia, pempek Palembang. Tank tersebut dihiasi dengan slogan seperti “Pempek Kapal Perang Asli Palembang” di satu sisi dan “Pempek Cita Rasa Wong Kito” di sisi lainnya.
Lebih mengejutkan lagi, meriam utama tank tersebut dihiasi dengan tulisan “Pempek Permata,” yang merujuk pada restoran terkenal di Palembang.
Baca Juga: Warga Berang! Tarian India di Acara STQ Viral, Panitia Akui Kelalaian
Fenomena ini menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk para penggemar kuliner dan budaya Indonesia, yang mengamati bagaimana elemen lokal dari Palembang digunakan dalam konteks konflik global. Pempek, makanan berbahan dasar ikan dan tepung yang sudah menjadi ikon kuliner Indonesia, tiba-tiba berubah menjadi simbol solidaritas dalam medan perang.
Gambar tank tersebut dibagikan oleh akun @ZShakerCentral di platform X (sebelumnya Twitter), menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat menyentuh berbagai kalangan, bahkan di luar negeri. Akun tersebut juga menyinggung bahwa pendukung di Donbass dan Palestina menerima dukungan dari komunitas Indonesia.
Mengapa pempek? Ada banyak teori. Salah satu yang paling mungkin adalah karena pempek dianggap sebagai representasi kelezatan sederhana namun kuat—seperti solidaritas yang ingin ditunjukkan oleh komunitas Indonesia kepada mereka yang terlibat dalam konflik. Restoran Pempek Permata yang namanya dipasang pada tank juga menjadi pusat perhatian.
Pemilik restoran tersebut belum memberikan komentar langsung, tetapi banyak yang percaya bahwa ini merupakan bukti kuat bagaimana makanan bisa menjadi simbol yang lebih dari sekadar sajian kuliner.
Baca Juga: Dari Gelombang Panas hingga Badai yang Tak Terduga: Bukti-bukti Cuaca Bumi Semakin Aneh
Fakta bahwa tank ini digunakan dalam konteks perang membuat semua ini semakin menarik. Biasanya, kita berbicara tentang solidaritas dengan cara-cara formal—dukungan diplomatik, kemanusiaan, atau finansial. Namun, penggunaan meme dan kuliner sebagai alat untuk menunjukkan dukungan moril membuka dimensi baru tentang bagaimana pesan solidaritas bisa disampaikan.
“Customisation” tank dengan referensi kuliner menunjukkan semangat kreativitas yang tak biasa dalam menyikapi situasi sulit.
Baca Juga: Mengapa Labirin Kebun Jagung Terbesar di Dunia Menarik Jutaan Pengunjung Setiap Tahun
Dalam perspektif yang lebih luas, budaya populer sering kali menjadi sarana yang ampuh untuk menjembatani perbedaan antar negara. Di tengah situasi yang tegang, seperti konflik di Ukraina, kita bisa melihat bagaimana elemen-elemen budaya yang tampaknya sederhana mampu memberikan sedikit rasa manusiawi dan solidaritas.
Ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap konflik, ada keinginan universal untuk saling mendukung, entah melalui kata-kata atau bahkan melalui makanan.
Artikel Terkait
Viral! Gang Sempit Penghubung Pengendara Motor Terblokir Saat Warga ‘Akamsi’ Perbaiki Atap, Bagaimana Dampaknya?
Mengapa Labirin Kebun Jagung Terbesar di Dunia Menarik Jutaan Pengunjung Setiap Tahun
Dari Gelombang Panas hingga Badai yang Tak Terduga: Bukti-bukti Cuaca Bumi Semakin Aneh
Surat Suara Pilkada Sudah Tiba, 40 Hari Menuju Pemilu! KPU Siapkan Cadangan PSU untuk Antisipasi Pemilihan Ulang
Warga Berang! Tarian India di Acara STQ Viral, Panitia Akui Kelalaian