Sulawesitoday - Saat mendengar nama Kartu Sulteng Sejahtera (KSS), warga Kecamatan Kasimbar, terutama Desa Posona dan Donggulu, tampaknya hanya punya satu kata: kecewa. Program yang sempat digadang-gadang menjadi solusi bagi masyarakat menengah ke bawah ini kini dianggap tak lebih dari janji kosong.
Bahkan, beberapa warga mengaku menyimpan kartu itu bukan karena manfaatnya, tetapi sebagai bukti kekecewaan mendalam mereka.
Baca Juga: Tunjangan Guru Dijarah, Kejari Minahasa Tetapkan MS sebagai Tersangka Korupsi
RS (42), seorang guru bantu madrasah, mengungkapkan perasaannya dengan nada getir. “Saat kartu ini diberikan, rasanya seperti ada harapan baru. Tapi, apa gunanya kalau tidak bisa dipakai? Kami merasa dibohongi,” ujarnya.
Kejadian ini seolah menjadi pengingat pahit tentang bagaimana janji politik sering kali berhenti hanya sebagai retorika. Penggunaan kata-kata pasif dalam pernyataannya juga menunjukkan bahwa warga seperti RS merasa tidak punya kontrol atas apa yang terjadi pada mereka.
Baca Juga: Sabu Asal Malaysia dalam Bungkus Milo, Polisi Tangkap Kurir di Jalanan Samarinda
Cerita lain datang dari MR, buruh panjat yang sudah bertahun-tahun bekerja keras untuk mencukupi keluarganya. Ia menyebutkan bahwa kartu tersebut kini hanya berfungsi sebagai "kenang-kenangan kebohongan".
“Pak Cudi bilang ini program Pak Ahmad Ali, makanya tidak dilanjutkan. Tapi kami tahu siapa yang janji dulu. Jangan salahkan orang lain, itu yang bikin kami marah,” katanya. Ungkapan ini memperlihatkan betapa warga sudah mulai kritis dalam menganalisis klaim para politisi.
Baca Juga: 12 ASN di Maros Kehilangan Gaji, Mangkir Lebih Setahun Tanpa Kabar
Program KSS, yang seharusnya menjadi simbol dukungan pemerintah kepada kelompok rentan, malah menjadi momok bagi pasangan Rusdi Mastura dan Ma’mun Amir menjelang Pilkada Sulteng 2024. Dalam diskusi kebijakan publik di Palu, SBS, seorang mahasiswa doktoral, menegaskan bahwa kegagalan program ini dapat menjadi senjata ampuh bagi lawan politik.
“Masyarakat sekarang pintar. Informasi bisa dibandingkan dengan mudah. Kalau janji ini terus dibahas, Cudi hanya akan kehilangan simpati,” jelasnya.
Baca Juga: Misteri Tewasnya Chika di Trans Sulawesi, Bekas Luka di Leher dan Dada Picu Pertanyaan Besar
Namun, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa program ini tidak berjalan sebagaimana mestinya? Sampai sekarang, belum ada penjelasan resmi yang benar-benar menjawab kekecewaan masyarakat. Yang jelas, warga Kasimbar sudah kehilangan kepercayaan mereka.
Bahkan, sebagian besar menganggap Rusdi Mastura hanya memanfaatkan momen Pilkada 2020 untuk menarik simpati, tanpa niat tulus merealisasikan program yang dijanjikan.
Artikel Terkait
Misteri Tewasnya Chika di Trans Sulawesi, Bekas Luka di Leher dan Dada Picu Pertanyaan Besar
Makassar Pimpin Kasus DBD, Sulsel Tercatat 4.975 Insiden dan 20 Kematian di 2024
12 ASN di Maros Kehilangan Gaji, Mangkir Lebih Setahun Tanpa Kabar
Sabu Asal Malaysia dalam Bungkus Milo, Polisi Tangkap Kurir di Jalanan Samarinda
Tunjangan Guru Dijarah, Kejari Minahasa Tetapkan MS sebagai Tersangka Korupsi