Sulawesitoday - Tragedi di Air Terjun Ogomojolo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, berakhir dengan kabar duka. Caca (15), remaja perempuan yang sempat dilaporkan hilang setelah terseret arus pada Minggu (17/11), akhirnya ditemukan pada Senin (18/11) sekitar pukul 19.20 WITA. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia oleh seorang nelayan, berjarak sekitar 2 mil laut dari lokasi kejadian.
Kepala Kantor Basarnas Palu, Andrias Hendrik Johannes, mengonfirmasi temuan ini. "Korban kedua telah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia," ujarnya. Jasad Caca langsung dievakuasi oleh tim SAR gabungan dan dibawa ke rumah duka di Desa Palasa Lambar, Kecamatan Lambasa.
Baca Juga: Diduga Keracunan Minuman, 4 Siswa SDN 2 Suwawa Dilarikan ke Puskesmas
Sebelumnya, jasad Firga (15), korban pertama, ditemukan Senin pagi dalam kondisi mengapung di laut. Tragedi ini bermula ketika kedua remaja mandi di air terjun tersebut. Tanpa peringatan, arus deras dari luapan Sungai Ogomojolo menyeret mereka ke hilir.
Pencarian Intensif dengan Akhir Tragis
Proses pencarian melibatkan berbagai unsur SAR, termasuk tim Basarnas, relawan setempat, dan masyarakat. Kerja sama ini, meskipun intensif, tak mampu menyelamatkan nyawa para korban. "Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat. Namun, kami turut berduka cita atas kehilangan ini," ujar Andrias.
Baca Juga: Dari Aspirasi Jadi Komitmen, Pasangan BERAMAL Gaet Dukungan Massal di Kecamatan Moutong
Lokasi penemuan korban, 2 mil laut dari titik awal, menunjukkan kuatnya arus dan bahaya di wilayah tersebut. Nelayan setempat menjadi kunci dalam menemukan jasad Caca, menambah dimensi solidaritas lokal dalam upaya pencarian.
Peringatan untuk Keselamatan di Wisata Air
Kasus ini menjadi pengingat serius tentang pentingnya kewaspadaan saat berwisata di lokasi alam terbuka. Air terjun dan sungai, terutama saat musim penghujan, dapat berubah menjadi jebakan mematikan dalam hitungan menit.
Baca Juga: Jakarta Tetap Ibu Kota Hingga Prabowo Teken Keppres, Pembangunan IKN Jadi Kunci
Tips sederhana seperti memeriksa prakiraan cuaca, mengenakan alat keselamatan, atau berhati-hati terhadap tanda-tanda air yang mulai keruh, bisa menyelamatkan nyawa. Edukasi keselamatan perlu menjadi prioritas, terutama di destinasi wisata alam yang sering dikunjungi anak muda.
Optimisme dari Tragedi
Meski berakhir duka, peristiwa ini menunjukkan solidaritas dan kesiapan berbagai pihak dalam menangani bencana lokal. Dari masyarakat hingga pemerintah daerah, semua bekerja bahu-membahu. Dengan lebih banyak edukasi dan perencanaan, harapannya tragedi seperti ini bisa dicegah di masa depan.
Artikel Terkait
Manusia yang Dikutuk Jadi Anjing, Fenomena Aneh atau Tipuan? Pengunjung Terkejut Menemukan Fakta di Balik Legenda Mumtaz Begum
Setyo Budianto: OTT KPK Perlu, Minimalisir Praperadilan dan Fokus Bongkar Korupsi Besar
Jakarta Tetap Ibu Kota Hingga Prabowo Teken Keppres, Pembangunan IKN Jadi Kunci
Dari Aspirasi Jadi Komitmen, Pasangan BERAMAL Gaet Dukungan Massal di Kecamatan Moutong
Diduga Keracunan Minuman, 4 Siswa SDN 2 Suwawa Dilarikan ke Puskesmas