Sulawesitoday - Muhammad Fuad Riyadi, yang lebih dikenal sebagai Gus Fuad Plered, akhirnya mengeluarkan permintaan maaf atas pernyataannya yang menimbulkan polemik.
Dalam klarifikasi yang disampaikan pada Jumat (28/3/2025), Gus Fuad menegaskan bahwa ungkapan “Monyet” bukanlah ditujukan kepada Habib Idrus Bin Salim Aljufri, atau yang akrab dikenal sebagai Guru Tua,. Melainkan kepada sekelompok pihak yang dinilainya berusaha memaksakan pengusulan gelar pahlawan nasional tanpa memenuhi kriteria formal yang telah ditetapkan.
“Saya menyampaikan permohonan maaf, jika pernyataan saya dianggap menghina pihak-pihak yang terkait. Apa yang saya nyatakan tentang usulan pahlawan nasional itu, semata-mata untuk menjaga kewibawaan pemerintah, serta untuk menjaga kebesaran nama para pahlawan yang benar-benar telah berjuang demi kemerdekaan bangsa dan martabat Indonesia,” ujar Gus Fuad dengan nada penuh penyesalan namun tegas.
Ia menjelaskan bahwa klarifikasi tersebut didasari oleh keprihatinannya atas praktik-praktik yang kian marak, dimana beberapa oknum mencoba mengakali aturan guna mengangkat seseorang yang tidak memenuhi syarat formal.
Menurutnya, informasi yang diterima dari Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat, termasuk keterangan M. Alfian, mengungkapkan bahwa sejak 2006 pengusulan gelar tersebut kerap tertunda akibat minimnya dokumen perjuangan fisik serta adanya persoalan status kewarganegaraan.
Gus Fuad menambahkan, analogi yang disampaikannya merujuk pada kisah dalam Al-Qur’an tentang kaum yang menyiasati aturan hingga akhirnya dikutuk sebagai “Monyet”.
“Analoginya bukan saya tujukan pada Guru Tua secara pribadi, melainkan pada praktik akal-akalan yang berpotensi merusak integritas sistem pengusulan pahlawan,” terangnya.
Lebih lanjut, Gus Fuad menyerukan agar seluruh pihak mendukung pemerintah dalam menjalankan tugas dan amanah konstitusi.
“Mari kita bersama-sama mendukung pemerintah agar dapat menjalankan tugas dan amanah rakyat dengan sebaik-baiknya sesuai dengan konstitusi kita. Jangan sampai kita justru ikut-ikutan menambah beban pemerintahan,” pungkasnya.
Pernyataan ini diharapkan mampu meredam polemik yang telah mencuat serta mengembalikan semangat persatuan dan penghormatan terhadap proses hukum dan sejarah yang sah. Klarifikasi Gus Fuad menjadi momentum penting untuk menghindari praktik-praktik yang dapat mengaburkan nilai-nilai perjuangan bangsa dan keutuhan sistem kenegaraan.