Sulawesitoday - Suara kayu patah bersahut dengan jeritan warga. Jembatan apung yang menghubungkan Bojongsoang dan Baleendah, Kabupaten Bandung, ambruk tiba-tiba. Tanpa aba-aba. Tanpa peringatan. Hanya dalam hitungan detik, bambu-bambu penghubung itu menyerah pada beban dan usia.
Video berdurasi 36 detik yang beredar cepat memperlihatkan kepanikan: sepeda motor menggelinding ke air, tubuh-tubuh manusia tercebur, dan suara rekaman yang bergetar oleh ketakutan. “Alah jembatan runtuh!” teriak seorang warga, lebih terdengar seperti doa yang terlambat daripada laporan.
Tak jelas siapa yang merekam. Tapi jelas siapa yang panik: semua orang. Mereka yang sempat melompat selamat, beberapa lainnya dibantu warga sekitar—basah, lebam, dan trauma.
“Kejadiannya sekitar jam 19.00 WIB,” kata AKP Hendri Noki Rukmansya, Kapolsek Baleendah. Tidak ada korban jiwa, katanya. Tapi luka tetap luka, dan trauma, seperti biasanya, tidak selalu masuk dalam laporan resmi.
Jembatan itu, terbuat dari kayu dan bambu seadanya, sejak lama jadi jalur alternatif bagi warga yang malas memutar jauh. Tapi bukan berarti harus dibiarkan jadi jebakan. Kini, jalur itu ditutup. Sementara, atau selamanya, belum jelas.
“Kami koordinasi agar jembatan ini tidak digunakan lagi. Tidak layak dilintasi,” ucap Hendri, datar.
Baca Juga: Jembatan Desa Tapua Polman Ambruk Dihantam Banjir, 800 Jiwa Terisolir
Sayangnya, seperti banyak jembatan darurat lain di negeri ini, ia berdiri karena keterpaksaan, bukan karena izin. Dibiarkan karena dianggap membantu, bukan karena aman.
Yang runtuh malam itu bukan sekadar jembatan. Tapi juga kepercayaan warga pada infrastruktur seadanya. Entah sampai kapan kita harus percaya pada kayu lapuk yang dibebani tubuh-tubuh hidup.